Menghubungkan Petani Asia Tenggara, Strategi ASEAN Membangun Pertanian Berkelanjutan

Menghubungkan Petani Asia Tenggara, Strategi ASEAN Membangun Pertanian Berkelanjutan
Menghubungkan Petani Asia Tenggara, Strategi ASEAN Membangun Pertanian Berkelanjutan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Gagasan mengenai agroekologi acap kali menyusut sebatas teknik bercocok tanam tanpa pestisida kimia. Padahal, jika dibedah lebih dalam, pendekatan ini merangkul dimensi yang jauh lebih luas, memadukan prinsip ekologi dengan ilmu pertanian demi membangun sistem pangan yang tangguh secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Ketika Food and Agriculture Organization (FAO) menyetujui sepuluh elemen kunci agroekologi pada 2019, mulai dari keanekaragaman hayati, efisiensi, daur ulang, hingga ekonomi sirkular, dunia makin menyadari bahwa elemen-elemen tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling menopang dalam membentuk ekosistem pangan yang berkelanjutan.

Di kawasan Asia Tenggara, keberagaman hayati yang melimpah dan kuatnya basis petani skala kecil menjadi modal sosial mendasar untuk menggeser paradigma pertanian ekstraktif menuju pengelolaan lahan yang ramah iklim. Negara-negara di ASEAN memiliki pengalaman yang luas dalam penerapan prinsip-prinsip agroekologi di semua tingkatan sistem pangan berdasarkan kondisi lokal yang memberikan landasan untuk transformasi yang lebih luas.

Pengalaman dalam menerapkan agroekologi telah menunjukkan kemungkinan bagi para petani untuk meningkatkan dan menjaga tingkat produksi mereka sekaligus mengurangi pengeluaran untuk bahan, terutama untuk pestisida dan pupuk. Dalam beberapa kasus, praktik agroekologi seperti pertanian organik membutuhkan lebih banyak pekerja, tetapi keuntungan finansialnya tetap sama jika penghematan bahan kimia pertanian diperhitungkan, dan bahkan lebih besar jika petani mendapat harga lebih tinggi karena produk yang dihasilkan lebih aman dan sehat bagi konsumen.

Salah satunya kita bisa melihat negara Malaysia, di mana perkebunan sawit dan karet merupakan kontributor utama bagi perekonomian di negara tersebut. Namun, perkebunan ini rentan terhadap hama dan penyakit. Praktik agroekologi seperti pengelolaan hama membawa dampak besar yang nyata. Para ilmuwan Malaysia juga sedang berupaya untuk memulihkan keanekaragaman hayati di perkebunan yang diharapkan berdampak positif pada siklus nutrisi, air, dan karbon sehingga berkontribusi pada pertanian yang berkelanjutan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan