Mencicipi Eksotisme Puisi-Puisi Pablo Neruda yang Bernuansa Alam

Klikhijau.com – Tak hanya makanan yang bisa dicicipi, tapi juga puisi. Kekuatan puisi terletak pada pilihan katanya. Pemilihan kata (diksi) yang tepat pada puisi akan memberi sensasi tersendiri. Ta...

Mencicipi Eksotisme Puisi-Puisi Pablo Neruda yang Bernuansa Alam
Bacakan Artikel

Saat telah kutinggalkan di belakang, tiba-tiba akar-akar
menangis padaku, tanah yang telah hilang bersama masa kanak-kanakku
dan aku berhenti, terluka oleh harum pengembaraan

Planet

Adakah batu-batu air di bulan?
Adakah cairan emas?
Apakah warna musim gugur?
Adakah hari-hari berlarian dari yang satu ke yang lainnya
hingga seperti seikat rambut
mereka terurai? Berapa banyak yang jatuh
–kertas-kertas, anggur, tangan-tangan, mayat-mayat–
dari bumi ke tempat yang jauh itu?

Di sanakah kehidupan terbenam?

 


Burung

Ia dilewati dari satu burung ke burung lainnya
seluruh anugerah hari,
yang beranjak dari galur ke galur sepanjang hari,
yang bersembunyi di antara tumbuhan
dalam terbang yang membuka sebuah lorong,
di mana angin akan melintasi
tempat burung-burung tengah memecahkan
udara yang beku dan biru:
ke sanalah masuknya malam.

Kembali dari begitu banyak perjalanan,
aku tergantung dan hijau
antara matahari dan geografi:
aku melihat bagaimana sayap-sayap bekerja,
bagaimana wewangian diteruskan
oleh telegraf bersayap
dan dari atas aku melihat sebuah jalan,
musim-musim semi dan atap-atap,
para nelayan di pelelangan,
pantalon-pantalon buih,
melihat semuanya dari langit hijauku.
Aku tak punya lebih banyak abjad
dari walet-walet dalam kawanannya,
sepercik air jernih
dari seekor burung di atas api
yang menari di luar serbuk sari

Samudera

Tubuh lebih sempurna ketimbang gelombang,
garam membasuh barisan laut,
dan burung yang berkilau
terbang tanpa sisa tanah.

 

Laut

Sebuah entitas, tetapi bukan darah.
Sebuah pelukan, kematian atau mawar.
Masuklah laut dan mempertemukan hidup kita
dan menyerbu sendirian dan menebarkan tubuhnya dan bernyanyi
pada malam-malam dan hari-hari dan para lelaki dan makhluk-makhluk hidup.
Hakekatnya: api dan dingin: pergesaran.

 


Air

Segala yang ada di atas bumi tegak, semak
menusuk dan kehijauannya
menggigit, kelopaknya luruh, berjatuhan
hingga satu-satunya bunga menjadi kejatuhan itu sendiri.
Air adalah hal lain,
tak memiliki petunjuk arah tetapi kejernihan geraknya sendiri,
menembus semua warna mimpi,
pelajaran-pelajaran yang jernih
dari batu
dan di dalam kerja besar itu
adalah cita-cita buih yang tak tercapai.

Nah, itulah beberapa puisi Pablo Neruda tentang alam atau bernuansa alam. Selamat mencicipi dan semoga memberi manfaat kepada sahabat hijau

Sumber: rusydifirdaus.wordpress.com dan sastra-indonesia.com

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2