Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Mencicipi 7 Pantun dari Tri Astoto Kodarie yang Bernuansa Alam

Klikhijau.com - Pantun memiliki ciri khas tersendiri. Jenis sastra ini termasuk  salah satu jenis puisi lama. Pantun biasanya dituturkan secara lisan. Membuat pantun tidak mudah, sebab ada aturan “...

Oleh Tim Redaksi 05 Feb 2022 03:30 3 menit baca
Klikhijau.com - Pantun memiliki ciri khas tersendiri. Jenis sastra ini termasuk  salah satu jenis puisi lama. Pantun biasanya dituturkan secara lisan. Membuat pantun tidak mudah, sebab ada aturan “main” yang harus diikuti. Umumnya pantun terdiri atas empat larik atau empat baris bila dituliskan. Pada tiap liriknya terdiri atas 8-12 suku kata. Persajakan akhirnya berpola, yakni   a-b-a-b ataupun a-a-a-a. Aturan main itulah sehingga tidak semua orang, termasuk penulis bisa membuatnya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi  Tri Astoto Kodarie, penyair yang kini tinggal di Parepare, Sulawesi Selatan itu lihai membuat pantun. [irp] Bahkan ia sanggup membuat satu buku khusus kumpulan pantun, judulnya Aku, Kau, dan Rembulan. Buku itu diterbitkan oleh De la Macca pada tahun 2015 lalu. Buku pantun dari Lelaki kelahiran 29 Maret  1961 di Jakarta itu menjadi angin segar bagi pencinta pantun. Karena  tentang pantun pun tidak terlalu banyak yang beredar di pasaran. Dalam buku kumpulan pantunnya tersebut, Tri Astoto Kodarie banyak mengisahkan tentang alam. Berikut 7 di antaranya:  

Pantun Ladang Jagung

  Burung terbang hujan pun datang Subur tanaman gembira peladang Susah hati bila ada belalang Makan dedaunan sampailah kenyang Pagi disiangi, sore disirami Tumbuh menjulang dan bersemi Bunga-bunga nampak mengembang Bakal buah pun tak lama menjelang Hijau subur dedaunan dipermainkan angin Burung-burung terbang ke tempat lain Jagung-jagung telah menguning Senyum pun mulai tersungging. [irp]

Pantun Alam

  Berburu rusa di tengah hutan Suara nyaring merdu ayam bekantan Jagalah selalu tanaman dan lingkungan Agar jauh bencana dari kehidupan Berharap hidup di sepetak lahan Pohon berjejer jadi rerimbunan Lestari alam menghampar kehijauan Bunga warna-warni di antara dedaunan Meliuk-liuk burung elang bermain di udara Melestarikan alam wujud cinta pada bangsa dan negara.  

Pantun di Sawah

  Sawah menguning bak permadani Nyiur melambai semerbak melati Tertawa riang para petani Panen tak lama gembiralah hati Bulir-bulir padi yang bernas Tangkai kokoh menopangnya Para petani berhasil karena kerja keras Pagi sore menyiangi tiada hentinya.  

Pantun Padang Ilalang

  Gundah gulana menyapa kalbu Petir berkilat hujan membadai Kalau engkau lupa nasihat ibu Mungkin cita-cita takkan tercapai Memasak udang lupa buang kulitnya Bencana datang baru tahu sebabnya Sungguh berliku jalan ke gunung Berhenti sebentar minum air buah nira Usaha sedikit mendapat untung Karena hati selalu gembira Menanti rembulan di padang ilalang Pesan diingat agar tak malang. [irp]

Pantun di Sungai

  Mandi di sungai berbatu landai Gemercik air mengalir deras Jangan melompat seperti tupai Kalau jatuh berdebam keras Bermain rakit dari hulu hingga hilir Rakit didayung memecah air Biarkan hidup terus mengalir Karena lumut bisa kita tergelincir Pohon peneduh di pinggir sungai Burung kepodang melompat riang di dahan Hutan lestari angin membelai Bagai belahan jiwa di dalam kehidupan. [irp]

Pantun Kupu-Kupu

  Indahnya terbang di antara kembang Sayap melambai tersentuh dedaunan Hinggap di dahan kembali terbang Kupu-kupu mungkin mencari kawan Warnanya hitam bertitik-titik kuning Terbang melayang terbawa angin Matanya indah berwarna bening Kupu-kupu lucu nampak bermain.  

Pantun Selembar Daun

  Bambu di hutan tumbuh berbatang-batang kemarau panjang kering kerontang seperti ada batang cendawan tumbuh doa dan rezki itu jaraknya tak jauh Sembunyi di balik daun sehelai emak di dapur memasak gulai janganlah suka bekerja yang sia-sia menghitung waktu jalanlah usia Selembar daun ditekuk tak bisa orang bertobat hal yang biasa janganlah kehendak itu dipaksa tak peroleh untung tapi binasa. Itulah 7 pantun dari Tri Astoto Kodarie. Penyair yang berprofesi sebagai pendidik ini, selain menulis buku untuk menyiarkan tulisannya, khususnya puisi. Dia  juga membacakan puisinya di chanel youtubenya sendiri “TriAsKodarie Channel” jika tertarik mendengarnya silakan dikunjungi! [irp]
Topik terkait
#puisi #ekologi sastra #puisi lingkungan #nuansa alam #pantung