Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Menavigasi Era TUNA: Memacu Nilai Ekonomi Petani Hutan Lewat Transformasi Peran Penyuluh

Klikhijau.com - Dinamika perubahan iklim yang kian tak menentu dan kompleksitas kebijakan tata kelola hutan, peran penyuluh kehutanan kini dituntut tidak sekadar menjadi penyambung lidah pemerintah. M...

Oleh Arman Jaya 28 Apr 2026 12:56 6 menit baca
Klikhijau.com - Dinamika perubahan iklim yang kian tak menentu dan kompleksitas kebijakan tata kelola hutan, peran penyuluh kehutanan kini dituntut tidak sekadar menjadi penyambung lidah pemerintah. Mereka adalah ujung tombak, mediator, sekaligus agen perubahan yang harus mampu mengawinkan kelestarian hutan dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat di tingkat tapak. Semangat transformasi inilah yang menjadi roh dalam kegiatan Temu Karya Penyuluh Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan yang diselenggarakan oleh Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDM) Wilayah VI, di Hotel Harper Perintis, Kota Makassar, kegiatan ini mengusung tema strategis: "Optimalisasi Peran Penyuluh Kehutanan untuk Meningkatkan Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) Kelompok Tani Hutan (KTH)". Acara yang mempertemukan sekitar 100 peserta dari unsur penyuluh kehutanan se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, akademisi, LSM, hingga pemerintah daerah ini, dibuka langsung oleh Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan (Kemenhut), drh. Indra Exploitasia, M.Si.
Menavigasi Era TUNA dan Turbulensi Ekosistem
Dalam sambutannya yang visioner, Indra Exploitasia menekankan bahwa dunia saat ini tidak lagi sekadar berada di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity), melainkan telah bergeser ke era yang lebih menantang TUNA. [irp] "Kita sekarang berada di era TUNA, yaitu era yang penuh dengan Turbulence (Turbulensi), Uncertainty (Ketidakpastian), Novelty (Kebaruan), dan Ambiguity (Ambiguitas)," ujar Indra di hadapan para penyuluh. Istilah turbulensi merujuk pada perubahan lingkungan yang terjadi sangat cepat, termasuk bencana alam dan pergeseran kebijakan global yang menuntut adaptasi instan. Indra menegaskan bahwa jika penyuluh kehutanan tidak memiliki kapasitas yang handal, empati yang tinggi, serta keberanian untuk adaptif, maka langkah-langkah perlindungan sumber daya alam akan kehilangan relevansinya. "Penyuluh harus hebat. Hebat itu artinya punya rasa empati, adaptif, handal, berani, dan tangguh. Mengapa? Karena ketidakpastian terhadap masa depan sumber daya alam kita nyata adanya. Kita butuh inovasi atau novelty untuk melahirkan gagasan baru di tengah situasi ini," tambahnya. Indra juga menggarisbawahi pentingnya mengubah mindset. Penyuluh bukan lagi sekadar penyampai informasi teknis, melainkan Knowledge Broker (perantara pengetahuan). Mereka harus mampu menyederhanakan kebijakan rumit dari pusat menjadi bahasa bumi yang dimengerti oleh petani hutan.
Ekonomi Masyarakat, Kunci Kelestarian Hutan
Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Balai P2SDM Wilayah VI Makassar, Kamaruddin, S.Hut, menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan aspek ekonomi masyarakat di sekitar hutan mengalami peningkatan. Menurutnya, menjaga kelestarian hutan tanpa memperhatikan perut masyarakat adalah upaya yang tidak akan berkelanjutan. [irp] "Kita terus menjaga kelestarian, tapi ekonomi masyarakat di sekitar hutan juga harus ditingkatkan. Jangan sampai masyarakat tidak merasakan manfaat ekonomi, karena hal itu justru bisa mengancam kelestarian hutan itu sendiri," tegas Kamaruddin dalam sesi wawancara. Fokus utama Balai P2SDM saat ini adalah meningkatkan Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) dari Kelompok Tani Hutan (KTH). Kamaruddin menjelaskan bahwa produk-produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dikelola masyarakat harus diberikan nilai tambah, mulai dari kualitas pengemasan hingga akses pasar yang lebih luas. Salah satu contoh sukses yang disebutkannya adalah produksi Gula Semut dari kawasan Bantimurung. "Produk gula semut dari KTH kita sudah bisa masuk ke hotel-hotel. Jadi, kalau Anda menginap di hotel dan menemukan gula merah atau gula semut, itu adalah buah karya petani hutan kita," ungkapnya dengan bangga. Ia berharap melalui Temu Karya ini, produk-produk KTH lainnya dapat menyusul untuk go public bahkan menembus pasar internasional. Saat ini, beberapa produk KTH binaan bahkan sudah ada yang berhasil menembus pasar lebih luas. Tantangannya ke depan adalah bagaimana menjajaki pasar yang lebih luas sehingga produk lokal ini terus berkembang.
Teknologi dan Kolaborasi Pentahelix
Di era digital, manualitas adalah masa lalu. Kamaruddin mewajibkan para penyuluh untuk meningkatkan kapasitas di bidang teknologi. Penggunaan data digital dan platform komunikasi dianggap krusial agar pembinaan terhadap KTH berjalan efisien dan berbasis data (data-driven). Hal senada juga ditekankan oleh Indra Exploitasia. Ia mendorong penerapan pendekatan Pentahelix, di mana pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media bersinergi. Penyuluh kehutanan tidak boleh bekerja dalam sekat-sekat sempit. "Sudah tidak berlaku lagi ego sektoral. Penyuluh di daerah, penyuluh di KSDA, atau penyuluh di lingkup pemerintah daerah harus berkolaborasi. Bahkan kita harus bersinergi dengan penyuluh pertanian serta kelautan dan perikanan," kata Indra. [irp] Ia juga mengajak para penyuluh untuk membuka diri terhadap data dan informasi dari Non-Governmental Organization (NGO) atau LSM. Lebih jauh ia mengajak untuk bersama-sama dengan pertemuan ini, dengan pertemuan dengan para NGO. "Kita berbagi data, kita berbagi pengalaman, kita berbagi informasi. Karena para NGO juga mempunyai data dan informasi yang sangat lengkap, yang juga mungkin kita tidak mempunyai pengetahuan terhadap data informasi tersebut "Para NGO seringkali memiliki data lapangan yang sangat lengkap. Mari berbagi data, berbagi pengalaman, karena kita tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga ekosistem yang kompleks ini," seru Indra.
Inovasi Sustainable Financing
Salah satu poin krusial yang dilemparkan dalam pertemuan ini adalah konsep Sustainable Financing atau mekanisme pendanaan berkelanjutan. Selama ini, hutan sering dianggap sebagai cost center, sebuah kawasan yang hanya menyerap biaya pengelolaan tanpa memberikan keuntungan finansial secara mandiri untuk pemeliharaannya. Ke depan, BPPSDM mewajibkan setiap Kepala Balai untuk melahirkan minimal satu inovasi atau kebaruan (novelty) yang mengarah pada kemandirian pendanaan hutan. "Kita ingin hutan mampu membiayai dirinya sendiri. Melalui model bisnis baru dan benefit sharing, pengelolaan hutan berbasis tapak harus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pengelolanya dan masyarakat luas," jelas Indra. Selain aspek ekonomi, penyuluh juga dibekali kemampuan early warning system (sistem peringatan dini) dalam pengendalian kebakaran hutan. Meskipun teknologi seperti SIPONGI sudah tersedia, penyuluh diharapkan memiliki kearifan untuk "membaca alam" dan gejala-gejala lapangan sebagai deteksi dini, berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB.
Membangun Platform Komunikasi Digital
Menutup rangkaian arahan, Indra Exploitasia menitipkan pesan kepada Kamaruddin untuk menciptakan output yang konkret pasca-kegiatan, yakni pembangunan Sistem Platform Komunikasi Digital. Platform ini bertujuan agar jejaring yang telah terbangun antara penyuluh, NGO, dan akademisi dalam ruangan Temu Karya tidak hilang begitu saja saat acara usai. Platform ini harus mampu mengikat koordinasi secara personal maupun institusional, sehingga meskipun terjadi rotasi jabatan, sistem komunikasi tetap berjalan stabil. "Kita tidak ingin ketika pimpinan pindah tugas, komunikasi jadi hilang. Harus ada platform digital yang mampu mengikat kita semua untuk terus berkolaborasi di luar ruangan ini," pungkasnya.
Transformasi Menuju Ketahanan Ekosistem
Temu Karya ini menjadi momentum krusial bagi penyuluh kehutanan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat untuk mereposisi peran mereka. Dari sekadar pegawai administratif menjadi dinamisator pembangunan di tingkat tapak. Dengan penguatan pada aspek Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) dan kapasitas adaptasi di era TUNA, diharapkan visi besar Kementerian Kehutanan dapat terwujud: Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera. Transformasi ini memang tidak mudah, namun dengan empati, keberanian, dan penguasaan teknologi, penyuluh kehutanan optimis mampu membawa masyarakat hutan tidak lagi bergantung secara ekstraktif pada hutan, melainkan hidup harmonis melalui diversifikasi mata pencaharian seperti agroforestry, silvopasture, dan pemanfaatan jasa lingkungan yang berkelanjutan. Gema dari Hotel Harper Makassar ini diharapkan sampai ke tiap jengkal kawasan hutan di pelosok Sulawesi, membawa kabar bahwa para penyuluh siap menjadi jembatan menuju masa depan hijau yang lebih cerah.  
Topik terkait
#ekonomi masyarakat #kemenhut #petani hutan #Temu Karya Penyuluh #BP2SDM Kemenhut