Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Menantu yang Diingini Ibu

sepanjang jalan antara rumahku dan rumahmu pohon-pohon telah ditebangi kita bisa saling melihat atap rumah masing-masing ……..cokelat tua…. dan napasmu yang rindu bisa bertamu ke mulutku tanpa...

Oleh Idris Makkatutu 10 Nov 2019 09:36 1 menit baca
sepanjang jalan antara rumahku dan rumahmu pohon-pohon telah ditebangi kita bisa saling melihat atap rumah masing-masing ……..cokelat tua…. dan napasmu yang rindu bisa bertamu ke mulutku tanpa terhalang dedaunan meski saat tiba penuh debu, disesaki gerah pohon-pohon adalah musuh bagi kotakita tak ramah, menakutkan ketika pohon-pohon di sepanjang jalan antara rumahku dan rumahmu ditebang ibu memilih pindah ke kampung katanya, kota akan menjadikannya patung dianggap tak butuh oksigen tempo hari, ibu datang menjengukku ia membawa buah avokad dari kampung ia memilih tak keluar rumah “itu di sana, atap rumah kekasihku,!” kataku saat ibu mengintip lewat jendela “sampai kapan kau akan jadi patung?” tanyanya sinis …..aku curiga, ibu tak merestui kita… ibu hanya ingin menantu yang punya pohon-pohon untuk dirawat… Kindang, 10 November 2019
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra ekologis #oksigen #kota tanpa pohon