Memprihatinkan, Sungai di Mulyorejo hingga Kalidami Kembali Berbusa

Klikhijau.com - Kondisi sungai yang melintasi wilayah Mulyorejo hingga Kalidami kembali memprihatinkan. Seorang warga yang tinggal di bantaran sungai Mulyorejo melaporkan, pada  jam 6 pagi, ia menemuk...

Memprihatinkan, Sungai di Mulyorejo hingga Kalidami Kembali Berbusa
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Kondisi sungai yang melintasi wilayah Mulyorejo hingga Kalidami kembali memprihatinkan. Seorang warga yang tinggal di bantaran sungai Mulyorejo melaporkan, pada  jam 6 pagi, ia menemukan sungai berbusa seperti salju. Busa tersebut memenuhi badan air sungai.

Penemuan tersebut segera ditinjau oleh tim peneliti Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton). Ecoton menurunkan tim untuk meninjau. Kemudian mereka melakukan pengujian kualitas air untuk mengidentifikasi penyebab fenomena tersebut.

Uji kualitas air dilakukan di outlet rumah pompa dan di air permukaan sungai yang telah tercampur busa. Peneliti Ecoton menyoroti 3 temuan utama dari pengujian tersebut yang melebihi baku mutu sesuai PP 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup  meliputi:


  1. Kadar Oksigen Terlarut (DO): Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar oksigen terlarut dalam air mengalami penurunan drastis hingga 0,5 ppm di air permukaan sungai sementara di outlet rumah pompa sebesar 0,4 ppm. Baku mutu air sungai kelas 2 adalah minimal 4 ppm. Penurunan kadar oksigen terlarut dalam air ini mengindikasikan adanya peningkatan beban pencemaran organik yang sangat signifikan.

  2. Fosfat (P): Kandungan fosfat dalam air mencapai 3,5 ppm di air permukaan, sementara di outlet mencapai 5,3 ppm. Baku mutu air sungai kelas 2 adalah 0,2 ppm. Peningkatan kadar fosfat ini sering berkaitan dengan penggunan deterjen dan limbah pertanian yang tidak terolah dengan baik.

  3. Amoniak: Kadar amoniak di air permukaan sungai terdeteksi sebesar 21,2 ppm dan di outlet rumah pompa sebesar 14. Baku mutu air sungai kelas 2 adalah 0,2 ppm. Tingginya kadar amoniak ini mengindikasikan adanya pencemaran dari limbah domestik.

Kepala Laboratorim Ecoton, Rafika Aprilianti mengatakan sungai berbusa ini dapat berasal dari limbah domestik yang mengandung deterjen salah satunya berasal dari air sabun sisa pencucian pakaian dan bahan kimia dalam personal care ditambah akumulasi dari limbah industri yang mengandung bahan kimia deterjen seperti surfaktan yang berfungsi mengikat kotoran dengan membentuk busa. Jika mengalami turbulensi makan akan membentuk busa.

Sungai berbusa itu tidak hanya menjadi masalah bagi lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat sekitar yang menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari.

Alaika Rahmatullah, salah satu tim peneliti Ecoton mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak jangka panjang dari pencemaran ini.

“Air yang tercemar bahan kimia seperti fosfat, amoniak, dapat menyebabkan gangguan kesehatan mulai dari iritasi kulit hingga masalah serius pada sistem pencernaan, oksigen terlarut dalam air yang menurun juga menyebabkan ikan-ikan di sungai susah hidup bahkan mati. Dampak jangka panjangnya ikan akan punah,” ujar Alaika.

Lebih lanjut, sungai berbusa ini tanda nyata pencemaran lingkungan yang parah. Pencemaran seperti fosfat dapat memicu eutrofikasi yaitu pertumbuhan alga dan tumbuhan air yang berlebihan. Hal ini dapat menurunkan kualitas air dan menyebabkan kematian biota air. Kematian biota air dapat mengganggu rantai makanan dan keseimbangan ekosistem air.

Janji pemkot belum terealisasi

Sebelumnya, berdasarkan pengamatan Ecoton fenomena serupa juga pernah terjadi di sungai Tambak Wedi dan Kalidami di tahun 2020 – 2023. Setiap musim kemarau sungai tersebut selalu berbusa.

Ecoton dijanjikan pemerintah kota akan dibangun Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal di pemukiman sekitar bantaran sungai. Namun, belum ada realisasi pembangunan IPAL komunal hingga saat ini.

“Sudah dua tahun lalu kami mendorong Pemkot untuk segera membangun IPAL Komunal, tapi hanya dijanjikan saja tidak ada realisasinya,” ujar Kurnia Rahmawati, hubungan eksternal Ecoton.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2