Memeras Darah Biru Kepiting Belangkas Demi Vaksin Covid-19

Klikhijau.com – Vaksin Covid-19 masih jadi tanda tanya kapan tersedia bagi masyarakat. Berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai negara dan peneliti untuk menemukannya. Namun, hasilnya masih dala...

Memeras Darah Biru Kepiting Belangkas Demi Vaksin Covid-19
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Vaksin Covid-19 masih jadi tanda tanya kapan tersedia bagi masyarakat. Berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai negara dan peneliti untuk menemukannya.

Namun, hasilnya masih dalam tahap uji coba. Di Indonesia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencoba menangkal virus korona dengan meneliti tanaman herbal asli Indonesia, mulai dari jahe merah hingga mengkudu.

Sementara di negara lain, banyak peneliti yang memanfaatkan darah biru kepiting tapal kuda atau kepiting belangkas.

Di Indonesia kepiting belangkas merupakan hewan yang dilindungi oleh pemerintah. Populasinya di alam mengalami ancaman kepunahan, diduga karena pencemaran perairan, degradasi habitat dan penangkapan berlebih (Khairul dan Zunaidy Abdul Siregar, 2019).

Bisa jadi karena hewan ini dilindungi sehingga tidak dilirik sebagai bahan baku obat, termasuk untuk vaksin Covid-19. Dan itu kabar yang menggembirana bagi populasi hewan ini.

Perlindunga belangkas   tertuang Surat   Keputusan   Menteri Kehutanan No. 12/ KPS -II/ 1987 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun. Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) telah menetapkan bahwa hewan ini termasuk yang dilindungi oleh undang-undang konservasi. Hewan ini di Indonesia lebih dikenal dengan nama Mimi mintuno.

Mengutip dari BBC, bahwa sesungguhnya banyak orang tidak tahu bahwa kesehatan kita tergantung pada kepiting yang darahnya berwarna biru. Ketergantungan itu akan jauh lebih besar seiring dengan munculnya pandemi Covid-19.

Kepiting dari suku Limulidae ini mirip paduan antara laba-laba dan kutu raksasa.  Usianya lebih tua dari dinosaurus, sehingga menjadikannya sebagai makhluk tertua di dunia.

Kepiting belangkas telah ada sejak 450 juta tahun yang lalu. Di Atlantik, kepiting tapal kuda bisa terlihat di musim semi dan mencapai puncaknya pada bulan Mei dan Juni saat air pasang pada bulan purnama.

Saat vaksin Covid-19 gencar dicari dan berusaha ditemukan, kepiting belangkas mengalami ‘petaka’ yang tidak ringan. Sebab darah birunya banyak digunakan menguji apakah sebuah calon vaksin aman untuk dipakai.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2