Memeras Darah Biru Kepiting Belangkas Demi Vaksin Covid-19

Klikhijau.com – Vaksin Covid-19 masih jadi tanda tanya kapan tersedia bagi masyarakat. Berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai negara dan peneliti untuk menemukannya. Namun, hasilnya masih dala...

Memeras Darah Biru Kepiting Belangkas Demi Vaksin Covid-19
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Sebenarnya darah belangkas bukan pertama kali diambil saat pandemi ini. Darah birunya telah dipanen sejak tahun 1970-an untuk menguji coba apakah alat medis dan obat intravena (obat yang masuk ke pembuluh darah) aman untuk dipakai.

Tersisa 4 spesies

Perburuan darah biru belangkas bukan sekadar sebagai obat, tapi ada bisnis yang cukup besar di baliknya. Darah kepiting itu merupakan salah satu cairan paling mahal di dunia. Satu liter harganya bisa mencapai US$15.000 (sekitar Rp213 juta).

Belangkas merupakan hewan yang mempunyai peranan dalam bidang ekologi dan biomedis. Limulidae berperan dalam penyeimbang rantai makanan dan sebagai sumber protein bagi setidaknya 20 spesies burung pantai yang bermigrasi (Moch. Zainul Milla dalam Dietl, 2018).

Masih menurut Milla dalam Rubianto (2012) bahwa belangkas atau Limulidae juga berperan sebagai bioturbator dan pengendali hewan invertebrata dan Limulidae juga di konsumsi  oleh  monyet  ekor  panjang  (Macaca  fascicularia).

Belangkas ‘diburu’ karena  ekstrak plasma darahnya telah banyak digunakan dalam kajian biomedis sebagai bahan pengujian endotoksin serta untuk mendiagnosis penyakit meningitis dan gonorhoe. Serum anti toksin menggunakan Limulidae juga telah berkembang di Amerika Serikat, Jepang dan Asia Barat (Moch Zainul Milla dalam Sekiguchi, 2018).

Darah ini digunakan untuk mengetes kontaminasi pada pembuatan segala sesuatu yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke tubuh manusia - mulai dari vaksinasi, tetesan ke pembuluh darah hingga alat medis untuk dicangkokkan.

Kepiting belangkas yang telah diambil darahnya akan dilepas kembali. Tapi, untuk mendapatkan darahnya, belangkas harus ditusuk  di dekat hatinya, lalu sekitar 30% darahnya diambil.

Namun ada penelitian yang memperlihatkan antara 10% hingga 30% dari mereka mati akibat tindakan ini. Pada jenis kelamin betina, ditemukan bahwa mereka lebih sulit untuk menghasilkan anak.

Perlakuan atas belangkas ini tentu saja mengkhawatirkan bagi para pelestari lingkungan. Sebab bisa jadi kita kehilangan hewan purba ini. Apalagi saat ini hanya tersisa empat spesies belangkas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, di pantai utara Jawa Timur.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2