Memeluk Pohon, Cara India Mencintai Bumi

Mengapa India tidak bersuara? Apakah India kehilangan jiwanya? Apakah tertidur? Tidak! India terjaga oleh pria pekerja keras Oleh para ibu rumah tangga yang menyalakan kayu bakarnya India terjaga...

Memeluk Pohon, Cara India Mencintai Bumi
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Mengapa India tidak bersuara?
Apakah India kehilangan jiwanya?
Apakah tertidur?
Tidak! India terjaga oleh pria pekerja keras
Oleh para ibu rumah tangga yang menyalakan kayu bakarnya
India terjaga oleh air mata dan tawa kaum miskin
Kesejahteraan adalah kemiskinannya
Dedikasinya atas kebenaran
Untuk suara datang dari yang terdalam
Satu-satunya kebenaran Dewa termanifestasi
Dalam setiap batu dan pohon

Klikhijau.com - Berusaha kucerna bait-bait itu, penggalan puisi atau terjemahan dari sebuah lagu India jadul zaman entah. Tulisan yang isinya terasa dekat dengan kondisi Indonesia kini itu muncul setelah sepersekian detik lalu iseng kuketik kalimat ‘pohon dalam film India’.

Di kolom pencarian media daring. Kutemukan bahwa Imam Bulu mendedikasikan sebuah puisi untuk gerakan perlindungan lingkungan dan perempuan. 'suara datang dari yang terdalam’ ditujukan untuk Vandhana Shiva, seorang feminisme dan filsuf yang aktif menyerukan 'peluklah pohon-pohon kita’ kepada rakyat India. Seruan yang terinspirasi dari kepahlawanan perempuan untuk menyelamatkan lingkungan 300 tahun lalu di desa Bishnoi, Rajashtan, India.

Sejarah India mencatat, di abad 18 Raja Jodhpur memerintahkan masyarakat desa untuk menebang pohon Khejri. Sebuah pohon yang akhirnya menjadi saksi bisu tumpasnya nyawa 363 masyarakat desa, dipimpin perempuan bernama Amrita Devi.

Gerakan chipko

Devi mengajak 27 perempuan miskin di desa untuk memeluk pohon sebagai bentuk protes dan perlawanan akan penebangan pohon yang dikeramatkan pada masa itu. Diikuti warga desa lain, mereka melawan senjata dan siksaan demi melindungi bagian bumi yang dihormati leluhur. Aksi ini kemudian dinamai gerakan Chipko yang artinya merangkul atau memeluk.

Betapa ini menarik! Belum kutemui kisah serupa dalam film India mana pun. Kuletakkan gawai, menemukan hal baru patut dirayakan dengan kopi tubruk. Setelah cangkir berada dalam genggaman, kusesap seteguk demi seteguk sembari menuntaskan kisah.

Laiknya sebuah pergerakan, Chipko mengalami regenerasi juga pergeseran. Pelopornya adalah Chandi Prasad Bhatt, pekerja sosial yang menganut ajaran non kekerasan Mahatma Gandhi. Pada 1964 di Gopeshwar, Bhatt membentuk wirausaha kecil yang memanfaatkan sumber daya hutan dan mempertemukannya dengan kontraktor yang hendak mengeksploitasi hutan.

Chipko dimulai pada April 1973 di distrik Chamoli, penduduk desa Mandal dikomandoi Bhatt dan Sunderlal Bahuguna menghalangi Symonds, perusahaan yang bergerak di bidang olahraga menebang pohon untuk proyek besar pengadaan raket tenis. Bersama kurang lebih 100 warga ditambah relawan dari perusahaan kecilnya memukul drum dan meneriakkan slogan-slogan yang memaksa kontraktor dan penebang hutan mundur.

Pada 1974, pelelangan 2500 pohon dari hutan Murenda Peng yang dilakukan Departemen Kehutanan dengan pihak kontraktor dari Rishikesh kembali membikin Bhatt meradang. Prasad menggalakan gerakan memeluk pohon pada para wanita di desa sebagai taktik untuk menyelamatkan hutan.

Perempuan menjaga pohon

Para perempuan berjaga sepanjang malam, menjaga pohon-pohon dari penebangan. Aksi itu berlangsung selama empat hari, gerakan menyebar ke desa-desa lain dan semakin banyak yang bergabung, hingga akhirnya mereka berhasil mengusir pekerja pada 26 Maret 1974.

Seiring waktu, Chipko terus bergerak. Februari 2017 warga desa Dang Uttarkashi melakukan aksi memeluk pohon untuk menolak penebangan pohon dalam rangka pembangunan jalan baru Dang-Pokhri.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2