Media Trip, Cara TNUK Edukasi Publik Terkait Pelestarian dan Perlindungan Lingkungan

Klikhijau.com - Dalam rangka promosi ekowisata dan publikasi pengelolaan program perlindungan badak Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) mengadakan kegiatan media trip dengan mengundang puluhan pek...

Media Trip, Cara TNUK Edukasi Publik Terkait Pelestarian dan Perlindungan Lingkungan
Bacakan Artikel

Pulau-pulau ini juga tidak hanya untuk ekowisata (wisata alam) tapi juga eduwisata (wisata pendidikan/science), baik untuk pelajari atau mahasiswa maupun masyarakat Umum. Khusus di Pulau Peucang yang memiliki luas 400-an hektar, telah disediakan tempat menginap yang aman, nyaman, dan pasti penuh kesan.

"Ada juga beberapa villa yang satu villanya bisa digunakan oleh pengunjung dalam bentuk kelompok 5-7 orang," kata Hari, salah satu pengelola Pulau Peucang.

Sensasi Pohon Kiara

Selain bisa bercengkrama dengan ratusan rusa, money, babi hutan dan biawak serta burung bangau yang setiap hari bermain di halaman kompleks penginapan, pengunjung juga dapat mengunjungi Pohon Kiara berusia ratusan tahun di lebatnya hutan alami Pulau Peucang.

"Pohon Kiara ini merupakan salah satu ikon Pulau Peucang. Kalau belum berfoto di atas cabang pohon yang besarnya sepelukan 30-an orang itu, berarti Anda belum ke Ujung Kulon," ujar Dedi sedikit berkelakar saat menjelaskan betapa spesialnya Pohon Kiara di Pulau Peucang.

Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, yang dimintai komentarnya atas kunjungan media trip ke TNUK, khususnya ke Pulau Peucang, mengatakan bahwa dirinya selama ini tidak tahu tentang adanya tempat wisata di Taman Nasional Ujung Kulon.

"Selama ini yang saya, dan mungkin banyak orang di luar sana, mengetahui TNUK hanya terkait konservasi atau perlindungan Badak Jawa. Saya baru tahu sekarang ada obyek wisata alam yang luar biasa bagus yang dikelola TNUK," tutur wartawan senior yang sudah menjelajahi banyak tempat wisata di dalam negeri maupun mancanegara itu.

Oleh karenanya, menurut Wilson Lalengke, media trip semacam ini perlu sering dilakukan, baik oleh TNUK maupun oleh kelompok-kelompok sponsorship TNUK. Dengan seringnya kunjungan media ke TNUK, secara langsung maupun tidak, destinasi wisata yang ada di wilayah TNUK dapat tersosialisasi dengan lebih masif melalui media-media yang dikelola oleh masing-masing peserta media trip.

"Tempat wisata alami cukup banyak bertebaran di nusantara namun masih kurang diminati. Padahal, untuk mengembangkan pengetahuan, keahlian, dan kemampuan bertahan hidup, kita perlu belajar ke tempat wisata alam khas Indonesia yang masih utuh alamiah tanpa sentuhan atau intervensi manusia yang berlebihan. Jadi, taman-taman nasional seperti TNUK sangat perlu berkolaborasi intens dengan kalangan penulis, pewarta, fotografer, video maker, bahkan pembuat film, agar destinasi ekowisata dan eduwisata yang mereka kelola cepat dikenal dan diminati masyarakat," jelas tokoh pers nasional itu penuh semangat.

Tidak hanya itu, Wilson Lalengke juga mendorong setiap staff, karyawan, pejabat, dan pegiat TNUK untuk belajar menjadi pewarta warga.

"Setiap orang yang bertugas di TNUK, dan taman-taman nasional lainnya, perlu belajar menulis berita, belajar membuat foto yang apik, bahkan membuat video pendek, menggunakan gawai atau smartphone yang dimilikinya. Jadi, setiap kegiatan dan event yang dilaksanakan oleh TNUK, bisa terpublikasi tanpa harus mendantangkan wartawan dari luar yang tentunya membutuhkan biaya tambahkan yang cukup banyak," tuturnya memberi masukan kepada pengelola TNUK.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2