Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Matamu dan Sampah di Kepalaku

Matamu dan Sampah di Kepalaku   kantuk tiba di matamu sebagai hujan. hidupkan bunga kamboja di belakang rumah. aku suka memanen senyummu jelang tidur. segar, penuh aroma balas dendam. k...

Oleh Idris Makkatutu 05 Oct 2025 09:14 2 menit baca

Matamu dan Sampah di Kepalaku

  kantuk tiba di matamu sebagai hujan. hidupkan bunga kamboja di belakang rumah. aku suka memanen senyummu jelang tidur. segar, penuh aroma balas dendam. kau boleh memangkas semua ingatan tentang lampau. asal bukan tentang bekas bibirku di gelas kopimu aku selalu ingin menanam kamboja di mata ngantukmu. biar jadi pengingat, kau pernah datang sebagai warna, sebelum polusi menetak kita dalam jarak dan matamu berubah hujan mengantar semua sampah ke dalam kepalaku Sep, 2025 [irp]

Tungku Masa Kecil

  malam jatuh kesepian ke dalam tungku di rumah kayu itu. tempat memelihara semua pelukan masa kecil. setelah rantau menyekap, kau ingin menyerap aroma nasi dari tungku kayu. memeluki semua kenangan masa kecil itu, tapi tak ada lagi masa kecil, tak ada lagi kayu bakar. tungku kayu menganggur sejak gas elpiji tiba di dapur di antar aturan, dan orang-orang menebang pohon demi pangan yang tumbuh dari jauh Sept 2025 [irp]

Menjaga Meja Makan

  pagi ini hujan turun. kau tak perlu sirami bunga rindu di taman samping rumah. semua kembali basah, menumbuh jadi kehidupan kita selalu alpa pada rasa syukur, akan udara pagi yang segar dalam segelas kopi kau bisa berjalan jauh dalam terik, tapi air akan membayang setia di tenggerokanmu. kini hujan tiba, tapi kau menarik doamu tentang pelangi. demi pejabat yang akan tiba di kampungmu sebagai dongeng kabut dan hujan datang, dan resah biak di mata kantukmu setelah semalam begadang menjagai meja makan Sept 2025 [irp]

Matahari Bertamu

  kau menyapu halaman dari serakan sampah yang di antar serakah. setelah pesta domino bubar. pikiranmu tak pernah bubar dari sibuk yang memanja terkadang kita melihat mata orang lain. lalu tahu segala yang tumbuh di kepalanya. sementara cermin menganggur dalam kamar yang bohlamnya putus tiga pekan lampau. suara musik dari tetangga membangunkanmu subuh tadi. kau ingin marah, tapi kantuk masih meraja di mata dan tubuh lemasmu matahari pagi cepat tiba di kamarmu, setelah pohon beringin tua itu ditebang pak desa Sept 2025 [irp]
Topik terkait
#puisi #ekologi sastra #puisi lingkungan #sastra lingkungan #sastra dan ekologi