Dari Cerita Rakyat ke Halaman Bergambar: Komik yang Menjaga Ingatan Maros Pangkep
Klikhijau.com - Di sebuah sore hangat di Makassar, Jumat, 5 September 2025, Cafe Agung yang biasanya dipenuhi pengunjung dengan secangkir kopi dan obrolan santai, kali ini terasa berbeda. Suasana penu...
Klikhijau.com - Di sebuah sore hangat di Makassar, Jumat, 5 September 2025, Cafe Agung yang biasanya dipenuhi pengunjung dengan secangkir kopi dan obrolan santai, kali ini terasa berbeda. Suasana penuh harapan dan senyum hangat hadir saat sebuah karya baru diperkenalkan: komik edukasi tentang Geopark Maros Pangkep.
Di meja depan, seorang perempuan berambut cokelat tampak berdiri dengan wajah lega. Dialah Alena Kimbrough, penulis asal Australia yang selama satu tahun terakhir hidup bersama kisah-kisah rakyat Sulawesi Selatan. Di sampingnya, General Manager Geopark Maros Pangkep, Dedy Irfan Bachri, berbicara penuh semangat, seolah ingin memastikan bahwa setiap orang di ruangan itu memahami arti penting komik ini.
“Harapan kami, komik ini bukan hanya jadi bacaan di Maros dan Pangkep, tetapi juga bisa dinikmati masyarakat umum. Bahkan di Australia, buku ini akan disimpan di sejumlah pusat informasi untuk memperkenalkan Geopark Maros Pangkep serta Sulawesi Selatan,” ujar Dedy.
Komik itu sederhana, dengan gambar berwarna yang memikat. Namun, di balik setiap halaman, ada lapisan makna yang dalam.
[irp]
Cerita Rakyat yang Hidup Kembali
Di dalam komik, ada Toakala dan Bissu Daeng dari Kabupaten Maros. Nama-nama yang mungkin bagi anak-anak zaman sekarang terdengar asing, kini dihidupkan kembali lewat gambar dan dialog. Kisah itu datang dari Djajang Andi Abbas, Kepala Dinas PMD Pangkep, yang menuturkan kembali cerita lama agar bisa diterjemahkan ke dalam bentuk modern.
Ada juga kisah Raja Lipan dari Pulau Marsende di Kabupaten Pangkep, yang disampaikan oleh Lory Hendrajaya, Tim Ahli Cagar Budaya Maros. Cerita yang dulunya mungkin hanya bergaung di telinga masyarakat pesisir, kini bisa dibaca di ruang kelas, perpustakaan, atau bahkan di layar ponsel lewat versi digitalnya.
Bagi sebagian orang, ini hanyalah dongeng. Tapi bagi masyarakat Maros dan Pangkep, cerita-cerita itu adalah identitas. Sebuah ingatan kolektif tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang ingin mereka wariskan.
Tantangan Menjaga Keaslian
Alena Kimbrough mengaku, menulis komik ini bukan perkara mudah. Ia harus berjalan di antara dua dunia: dunia akademik yang mengutamakan fakta, dan dunia rakyat yang penuh mitos dan simbol.
“Kami mengerjakan proyek ini sekitar satu tahun, dan melibatkan banyak pihak termasuk budayawan. Tantangannya, tentu karena dalam menuliskan cerita ini, tetap harus mempertahankan keaslian dari cerita ini,” kata Alena dengan nada serius, seolah masih merasakan beratnya beban itu.
[irp]
Ia tak bekerja sendirian. Daniel Becker dari Invisible Ink Studio Australia ikut menyumbang ilustrasi yang penuh ekspresi. Bersama-sama, mereka mencoba meramu cerita lokal Sulawesi Selatan agar tetap memikat, tanpa kehilangan ruhnya.
Komik sebagai Jembatan
Sejak awal, Dedy Irfan Bachri percaya bahwa komik adalah medium yang tepat. Ia tahu anak-anak lebih akrab dengan layar ponsel dan gambar bergerak ketimbang duduk mendengar dongeng panjang dari orang tua.
“Sekarang kami sudah bagikan kurang lebih 500 eksemplar di Kabupaten Maros dan Pangkep, dan kita target 1.000 eksemplar. Karena ini adalah hibah dengan keterbatasan, maka kita berharap nanti bisa disupport oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Maros dan Pangkep, dan Dinas Perpustakaan Provinsi Sulsel untuk memperbanyak ini,” jelasnya.
Di ruang peluncuran, beberapa guru dan mahasiswa tampak memegang komik itu, membuka halaman demi halaman. Wajah mereka berbinar, seakan menemukan cara baru untuk memahami budaya mereka sendiri.
Lebih dari Sekadar Buku
Komik ini hadir dalam berbagai format: cetak, digital, dan barcode yang bisa diakses siapa saja. Namun yang lebih penting dari bentuknya adalah jiwanya.
Di balik warna-warni ilustrasi, ada upaya untuk menjaga agar cerita rakyat tidak hilang ditelan waktu. Ada niat untuk mempertemukan generasi muda dengan leluhur mereka melalui medium yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Bagi masyarakat Maros Pangkep, mungkin ini baru langkah kecil. Tapi langkah kecil inilah yang suatu hari bisa membawa cerita Toakala, Bissu, dan Raja Lipan ke ruang-ruang kelas di Australia, ke perpustakaan di kota-kota besar, bahkan ke hati pembaca yang sebelumnya tak pernah mengenal Sulawesi Selatan.
Dan pada sore itu, di sebuah kafe sederhana, halaman-halaman komik seakan berbisik: bahwa warisan budaya tak akan hilang selama ada yang mau menuliskannya kembali, menggambarnya kembali, dan menyampaikannya kembali.
[irp]