Masa Depan Penerapan Green building di Indonesia?

Klikhijau.com – Bagaimana penerapan bangunan hijau (green building) di Indonesia saat ini? Sudah cukup lama minset ini dihembuskan dengan istilah lain arsitektur hijau. Bukan tanpa alasan, permasalaha...

Masa Depan Penerapan Green building di Indonesia?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Bagaimana penerapan bangunan hijau (green building) di Indonesia saat ini? Sudah cukup lama minset ini dihembuskan dengan istilah lain arsitektur hijau. Bukan tanpa alasan, permasalahan lingkungan di perkotaan semakin kompleks dengan defisit ruang terbuka hijau.

Kota-kota di Indonesia mulai memanen pemborosan energi dan merosotnya kualitas hidup akibat pola bangunan tidak ramah lingkungan. Isu bangunan hijau semakin mengemuka karena dikaitkan pula dengan isu global seperti perubahan iklim dan global warming.

Secara global, isu green building sudah berjalan dengan adanya sistem penilaian terhadap implementasinya. Penilaian arsitektur hijau paling populer di dunia adalah LEED (leadership ini Energy and Enviromental Desain) dari Amerika Serikat. Di Jepang dikenal sebuah lembaga bernama CASBEE (Comprehensive Assesment system for Built Enviroment Efficiensy). Sedangkan di Australia ada Green Star dan BREEM (Building Research Establishment Enviromental Assessment Method) dari Inggris.

Di Indonesia sendiri penilaian green building dilakukan oleh GBCI (Green Building Council Indonesia). Monitoring dan penilaian terhadap arsitektur hijau di Indonesia juga mulai berjalan. Banyak pihak melihat bahwa konsep ini adalah strategi jitu dalam menghadapi krisis lingkungan ke depan.

Richard Mathews, Konsul Australia di Makassar pada sebuah forum diskusi juga pernah mengatakan kalau Australia semakin serius dalam pengembangan green building. Bahkan bangunan rumah warga di Australia juga mulai bergeser ke konsep arsitektur hijau sebagai cara memiminimalkan pemborosan energi dan air.

“Banyak masyarakat sudah memasang sistim panel surya di rumah pribadinya untuk mengurangi pemakaian listrik yang berasal dari pembakaran minyak atau batu bara. Dengan maksud untuk mengurangi pengeluaran gas karbon dioksida dan bahan karbon lainnya,” kata Richard.

Richard membeberkan bagaimana Australia sangat concern akan hal ini. Misal dibangunnya banyak pabrik tenaga listrik terbarukan seperti PLT bayu, air, surya dan pabrik tenaga listrik berkelanjutan lainnya. “Inilah industri dan sistim baru yang akan menyelamatkan kita dari ekonomi karbon yang merusakkan lingkungan dunia ini,” jelasnya.

Dampak lingkungan arsitektur hijau

Apakah penerapan arsitektur hijau memiliki dampak besar terhadap kesehatan dan lingkungan. Muhammad Nur Fajri Alfata, Direktur Penelitian dan Pengembangan Energi Bersih Indonesia, menulis bahwa beberapa studi kritis memperlihatkan adanya perbedaan sudut pandang akan green building terutama pada aspek dampak lingkungannya.

Dalam tulisannya berjudul “Telaah atas konsep green building di Indonesia” Nur Fajri membandikan tiga riset ahli. Pertama, studi Scofield (2009) yang menemukan bangunan yang sudah bersertifikasi hijau dari LEDD tidak menunjukkan kemampuan penghematan energi yang lebih baik bila dibandingkan dengan bangunan non hijau.

Riset Gou, et al (2013) juga menemukan bahwa penghuni bangunan hijau ternyata hanya merasa puas pada aspek desain, kebutuhan dan produktivitas tapi kurang puas pada aspek kesehatan. Dari aspek kenyamanan, penghuni bangunan hijau merasa lebih nyaman pada kondisi udara musim panas tapi merasa kurang pada kondisi udara musim dingin.

Pandangan paling kritis diajukan Olgyay & Herdt (2004, dikutip Nur Fajri), tidak ada indikator kesehatan lingkungan dalam menilai dampak bangunan terhadap lingkungan sekitar. Pendapat ini diperkuat oleh studi Sharifi & Murayama (2013) yang melihat bahwa tujuh sistem penilaian bangunan hijau seringkali bias pada kriteria sumber daya dan lingkungan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2