Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Buku

Lewat Pohon Ara, Yudhistira Menggugat Walikota

Ditulis oleh Mahrus Andis -Saat lidah kelu tak mampu berkata-kata, inilah tulisanku, ceritaku untukmu- Kalimat di atas membuka pintu imaji pembaca memasuki ruang gugat seorang Yudhistira Sukat...

Oleh Tim Redaksi 19 Jun 2022 00:50 6 menit baca
Ditulis oleh Mahrus Andis
-Saat lidah kelu tak mampu berkata-kata, inilah tulisanku, ceritaku untukmu- Kalimat di atas membuka pintu imaji pembaca memasuki ruang gugat seorang Yudhistira Sukatanya. Dalam kumpulan cerita pendeknya berjudul "Nyanyian Sunyi", penerbit Garis Khatulistiwa, Makassar, 2022, Yudhi menulis 20 kisah yang menarik dibaca. Salah satu cerpennya yang ingin saya sentuh adalah "Percakapan Sunyi" (selanjutnya dibaca: PS). Cerpen ini berkisah tentang dua pohon raksasa yang tumbuh di pusat kota. Pohon Beringin dan Pohon Ara, keduanya sedang menanti nasib dibuldoser Walikota untuk keperluan proyek besar. Cerita ini menarik karena pengarang memanfaatkan gaya personifikasi untuk menembakkan peluru-peluru kritiknya. Sebagai tumbuhan klasik yang rindang di tengah kota, Pohon Beringin dan Pohon Ara merasa sudah tidak lagi memiliki manfaat bagi kehidupan umat manusia. Pohon Beringin yang menyadari hidupnya sudah rapuh karena usia dan akibat perlakuan yang tidak bijak dari masyarakat, hanya bisa pasrah. [irp] Sementara Pohon Ara yang usianya masih segar dan dibutuhkan keberadaannya di tengah kota, merasa sedih. Dia melakukan protes senyap lewat percakapannya dengan Ratu Lebah. "... Mengapa harus bersedih, Ara. Setiap yang hidup pasti akan mengalami akhir kehidupan. Itu takdir yang tak dapat ditolak," bujuk Ratu Lebah pada Ara sahabatnya. Sang Ratu sudah mendengar informasi tentang rencana penggusuran ..."
(PS, hal. 4)
Nasihat Ratu Lebah ini mengawali percakapan sunyi dua jenis makhluk yang berbeda di suatu malam. Personifikasi Pohon Ara seakan mengusung ideologi pengarang yang menentang kebijakan penggusuran. Ideologi ini menjadi diskursus di masyarakat dan, oleh Yudhistira, dialirkan ke dalam plot yang apik. "... Apa yang bisa kita harapkan dari Walikota yang baru itu. Semua sudah tahu riwayatnya. Dialah otak yang merancang pembangunan kota ini dengan persepsi ilmu yang dimilikinya. Siapa masyarakat yang dilibatkannya dalam membangun kota masa depan versinya? Hanya orang-orang yang akan melegitimasi pendapatnya saja yang diajaknya berbincang," ungkap Ara bersemangat ... "
(PS, hal. 5).
[irp] Kritik demi kritik terus dijajal oleh pengarang melalui gaya metafora. Walaupun objek gugatan itu cukup jelas dan, bahkan vulgar, tetapi sentilannya tidak langsung melukai. Anak panah yang dilepaskan melalui dialog antara Pohon Ara dengan Ratu Lebah terlalu subtil bagi pembaca yang luput dari proses sejarah politik di masa lalu. Mari kita lanjutkan percakapan kedua makhluk di bawah ini. "... Harusnya bagaimana, Ara". Sengaja si Ratu Lebah memancing sahabatnya mengungkapkan keluh kesahnya ... " Rupanya pancingan Ratu Lebah itu berhasil mengorek lebih jauh ideologi pengarang, seperti yang diucapkan Pohon Ara berikut ini. "... Semua sudah tahu, bagaimana pantai direklamasi dengan janji jadi ruang publik, tanpa tujuan komersial, kenyataannya ... semua warga sudah tahu, bagaimana fasilitas publik diakuisisi seperti lapangan kota untuk ruang terbuka hijau, kenyataannya ... ? Kita juga tahu bagaimana jalur drainase ditutup untuk memfasilitasi ruang parkir, bagaimana pedestrian dipangkas untuk pelebaran jalan, saudara-saudaraku para pohon pelindung dibabat habis. Disisakan sedikit setapak ruas-ruas beton ... " Oleh pengarang, Pohon Ara seakan dibebaskan dari beban keresahan yang menindihnya. Tidak cukup dengan itu, Pohon Ara pun diberikan kemerdekaan untuk mengumbar manfaat jasa-jasanya terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Narasi tentang hal ini dapat kita baca lewat cerocos lanjutan Pohon Ara : "... Sia-sia pengabdian bertahun-tahun untuk ikut menjaga ketersediaan air tanah. Sirkulasi udara bersih dan kenyamanan lainnya. Akibatnya apa ? Intrusi air laut makin menyergap warga hingga ke dalam 80 meter di kota ini. Itulah kenyataan ... ", ungkap Ara panjang lebar."
(PS, hal. 6).
[irp] Kritik pengarang, dengan memberikan hak bicara personifikatif kepada Pohon Ara, terus berlanjut. Walikota, yang entah di kota mana, tetap dijadikan subjek pencipta lingkungan abnormal. Puncak kritiknya dapat dibaca sebagai berikut : "... Andai Walikota dapat mendengar percakapan kita ini, mungkin akan membantunya menemukan solusi." Bisik Ara, lirih. "Itu pun tergantung dari kebiasaannya juga, apakah Pak Walikota cukup bijak saat mendengarkan keluhan. Jangan-jangan ia hanya pandai bicara saat kampanye menyampaikan program-program, tapi tak cukup pandai menghadirkan solusi tuntas atas berbagai persoalan warganya ketika berkuasa ... "
(P.S, hal. 9).
[irp] Yudhistira Sukatanya, bernama lengkap Drs. Ek. Eddy Thamrin, seorang mantan birokrat yang tentu paham manajemen pemerintahan. Karena itu, tema kritik birokratis dalam cerpen PS-nya terasa kental dan detil. Cerita yang digarap dengan stil konvensional ini terbilang panjang, lebih 10 halaman. Plot terkesan datar dan karakter pelaku terbungkus di balik wacana dialogis. Penggunaan gaya personifikasi melalui tokoh Pohon Ara dan Ratu Lebah sangat membatasi dinamika imaji pengarang. Karena itu, cerita PS ini boleh dinilai kurang menggigit dari aspek penggarapan sastra secara organis. Di samping itu, kelemahan cerita tampak pula pada proses editingnya. Di garis kreatif ini memang rawan terjadi kesalahan dan pemborosan kata dalam satu kalimat. Kesalahan berulang yang dilakukan oleh editor penerbitan adalah kurang jeli memeriksa isi tulisan. Seperti halnya pada cerpen PS ini, judul di kaver depan tertulis " Nyanyian Sunyi". Sementara dalam Kata Pengantar penulis di bagian awal buku tersebut tercantum frasa "Percakapan Sunyi". Saya memeriksa daftar judul, rupanya jelas. "Nyanyian Sunyi" bukanlah judul salah satu cerita di buku ini. Boleh jadi, itu kekhilafan editor yang terlalu sibuk dengan pekerjaan lain.
***
Jumlah cerpen hanya 20 judul, namun dalam Kata Pengantar disebutkan 21 buah. Kekhilafan-kekhilafan seperti ini memang tergolong kesalahan teknis di dunia percetakan. Tetapi, sesungguhnya hal tersebut tidak layak terjadi bagi sebuah penerbitan yang selevel Garis Khatulistiwa. Kesalahan teknis ini berdampak fatal. Judul "Nyanyian Sunyi" menggiring kesan bahwa Yudhistira Sukatanya hanyalah mengaduk-aduk kosakata sastra di zaman Pujangga Baru. Tentu juga ada beberapa potensi literatif yang penting diangkat di dalam cerita ini. Antara lain, ketabahan pengarang mengolah inspirasi dialogis ke bentuk karya imaji yang bernilai humanis. Bahkan, ideologi pengarang sempat merasuk ke lapisan transendensial, menyentuh kesadaran religius umat manusia. Selain itu, ending cerita PS berhasil dituang ke dalam narasi yang rapi dan mengail daya serap imajiner pembaca untuk merenung. [irp] Pada ending, memang ada kesan dipaksakan. Tapi yang jelas, pengarang telah berupaya menggiring pembaca dengan narasi puitis memasuki penyelesaian cerita yang, boleh saya sebut; wilayah prismatis Sang Pengarang. Cerpen PS yang kita bicarakan ini, tentu tidak mewakili 19 buah cerita lainnya dalam buku "Nyanyian Sunyi". Di antara cerpen-cerpen Yudhistira Sukatanya, Sutradara Teater yang tidak jelas tahun dan tempat kelahirannya itu, ada yang sudah diterbitkan di rubrik budaya surat kabar. Malah ada cerpennya yang pernah saya bicarakan dan dimuat dalam buku kritik "Remah-remah Sastra", 2019. Sebagai penutup, saya mengutip ending kisah yang cukup puitis-prismatis berikut ini : "... Saat jam delapan tiba, sebuah papan proyek dipancang dekat Pohon Ara. Pengumuman itu bertuliskan "Di sini akan dibangun jalan Tol Layang Demokrasi". Lengkap dengan gambar jalan yang melingkar-lingkar bagai usus di perut kota. Warga kota berkumpul di sana. ... Jam selanjutnya, jam yang akan menentukan kelangsungan hidup si Pohon Ara. Apakah akan tumbang seperti si beringin ... atau ... ... Tak ada warga yang buka suara. Masing-masing menahan diri, tak ingin dicap provokator pemicu anarkhi. Sang Ratu Lebah terbang menuju matahari seperti menjemput kematiannya. Ribuan lebah jantan ramai-ramai mengejar." *** -Mks, 15 Juni 2022- [caption id="attachment_25413" align="aligncenter" width="650"] Kumcer Nyanyian Sunyi[/caption] [irp]
Topik terkait
#pohon #mahrus andis #pohon beringin #pohon ara #kumpulan cerpen #yudhistira sukatanya #manfaat pohon ara