Hentikan Penularan Penyakit, Lebah Juga Praktikkan Jaga Jarak

oleh -18 kali dilihat
Ilustrasi lebah
Ilustrasi lebah/foto-suara.com

 

Klikhijau.com – Jaga jarak. Imbauan itu tetiba saja sangat familiar begitu Covid-19 datang. Meski sebelum-sebelumnya kata “jaga jarak” sudah bisa ditemukan di jalan—menempel pada kendaraan.

Hal menakjubkan dari imbauan jaga jarak untuk menghentikan penularan Covid-19. Juga dianut oleh lebah untuk menghentikan penularan suatu penyakit di antara mereka.

Hal itu diungkap oleh penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Penelitian itu menemukan bahwa lebah madu meningkatkan jarak satu sama lain ketika berada di bawah ancaman parasit .

“Di sini kami telah memberikan bukti pertama bahwa lebah madu memodifikasi interaksi sosial mereka dan bagaimana mereka bergerak di sekitar sarang mereka sebagai respons terhadap parasit umum,” ujar Dr. Alessandro Cini, rekan penulis studi.

KLIK INI:  Bikin Terenyuh, Begini Curahan Hati Perempuan Ini Saat Keluarganya Berstatus PDP

Menurutnya, lebah madu adalah hewan sosial, karena mereka mendapat manfaat dari membagi tanggung jawab dan interaksi seperti perawatan bersama.

Namun, ketika aktivitas sosial tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi, lebah tampaknya telah berevolusi untuk menyeimbangkan risiko. Mereka menerapkan jarak sosial.

Tim peneliti melihat bagaimana sarang lebah madu bereaksi terhadap kehadiran salah satu ancaman ektoparasit, yakni tungau Varroa atau Varroa destructor. Tungau jenis ini  berbahaya bagi lebah, baik secara individu maupun seluruh koloninya..

Berevolusi  memerangi patogen

Para ilmuwan membandingkan koloni lebah yang sehat dengan yang terinfeksi tungau. Mereka menemukan sejumlah perbedaan. Aktivitas mencari makan yang dapat menyebabkan penularan tungau lebih jarang terjadi di bagian tengah sarang di koloni yang terinfeksi.

Perilaku perawatan juga kurang umum. Secara keseluruhan, lebah pencari makan pindah ke luar koloni, sementara lebah perawat dan lebah groomer menghabiskan lebih banyak waktu terkonsentrasi di tengah koloni.

Hal menarik dari perilaku lebah adalah koloninya sudah terkotak-kotak untuk menjaga jarak antara dua area koloni ini.

Hal tersebut tampaknya membuat kelompok lebah yang berbeda tetap terpisah dan memperlambat penyebaran parasit atau penyakit.

“Peningkatan jarak sosial yang diamati antara dua kelompok lebah dalam koloni yang sama yang dipenuhi parasit mewakili aspek baru. Dan dalam beberapa hal, mengejutkan tentang bagaimana lebah madu berevolusi untuk memerangi patogen dan parasit,” jelas Dr. Michelina Pusceddu, selaku penulis utama studi tersebut.

Pusceddu juga mengungkapkan bahwa kemampuan lebah untuk menyesuaikan struktur sosial mereka dan mengurangi kontak antar individu dalam menanggapi ancaman penyakit memungkinkan mereka untuk memaksimalkan manfaat interaksi sosial jika memungkinkan, dan untuk meminimalkan risiko penyakit menular bila diperlukan.

Para peneliti percaya bahwa lebah madu bisa menjadi organisme model untuk memahami perilaku jarak sosial pada hewan lain juga.

“Koloni lebah madu memberikan model ideal untuk mempelajari jarak sosial dan untuk sepenuhnya memahami nilai dan efektivitas perilaku ini,” kata Dr. Pusceddu.

Jadi, menjaga jarak untuk terhindar dari penyakit, sesungguhnya telah diterapkan oleh lebah madu, mungkin jauh sebelum manusia menyuarakannya. Hanya saja para peneliti baru menemukan perilaku mengagumkan itu.

KLIK INI:  Gletser di Puncak Jaya akan Hilang, Indonesa Patut Berduka

 Sumber: earth.com