Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah

Publish by -373 kali dilihat
Penulis: Rifat Khan
Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah
Ilustrasi?Foto-bjoetejo

Apa pun yang terjadi dalam cerita ini, kau musti percaya. Sebab ini kutulis dengan penuh kesadaran pada sebuah pagi yang lupa menyiapkan sarapan. Maka kau harus percaya, aku tak mungkin mengisahkan cerita bohong dalam kondisi perut yang sedang keroncongan. Baiklah, begini kisahnya :

Segalanya memang berawal dari sebuah kilat di langit. Diikuti oleh suara yang sungguh memekakkan telinga dan langit seperti terbelah. Seorang lelaki berjubah dengan kereta kencana muncul. Turun ke Bumi. Orang-orang di dusun itu mengira kiamat datang secepat ini. Mereka meratap, memohon ampun kepada pemilik Bumi. Tapi si lelaki berjubah hanya tersenyum manis. Hanya tersenyum manis, kemudian berkata,

“Aku datang ke sini hanya untuk membeli segala macam sampah, baik itu plastik, bungkus deterjen, botol air mineral, dan apa saja.”

Sahdan, salah seorang tokoh di dusun itu manggut-manggut. Warga lain pun mengikuti. Perlahan mereka keluarkan apa yang ada di dalam rumah; ampas odol, bekas botol air mineral, bungkus deterjen, karton bekas, dan tikar yang tak dipakai lagi. Lelaki berjubah itu mengeluarkan alat timbang. Menimbang barang-barang warga. Membayarnya seharga 660 ribu per-kilo. Ratusan lembar uang ratusan ribu ia keluarkan dari saku jubahnya. Semua warga terkesima dan senyum bahagia.

KLIK INI:  Bercocok Cinta di Gelombang

Setelah semua proses penimbangan dan pembayaran tuntas. Lelaki berjubah itu berucap, “Aku akan datang lagi di hari yang tak kalian duga.” Kereta kencana itu kemudian melaju cepat dan terbang kembali menuju langit.

Semua warga bersyukur. Mereka menduga Tuhan memberi mukjizat bagi dusun itu. Sahdan dapat uang 1 juta 320 ribu sebab barang yang dijual seberat dua kilo. Mariam dapat 660 ribu saja sebab barangnya hanya sekilo. Warga lain beragam yang didapat. Ada yang 500 ribu, ada 760 ribu, ada yang dapat cuman 100 ribu sesuai dengan berat barang yang mereka jual.

“Orang itu membeli sesuai harga satu gram emas untuk sampah ukuran sekilo,” Sahdan bicara pada Mariam dengan wajah sumringah penuh bahagia.

“Kita harus kumpulkan lebih banyak lagi. Siapa tau secepatnya lelaki itu akan datang kembali” Jawab Mariam dengan wajah merah, seperti masih tak percaya dengan segala kejadian barusan.

“Ia pasti akan kembali. Ia diturunkan langit dan orang yang dari langit tak mungkin berbohong.” Timpal Muhidin, yang mendengar obrolan Mariam dan Sahdan. Muhidin tadi hanya dapat seratus ribu sebab barangnya hanya sedikit. Tapi ia tetap bersyukur, sebab ia hanya lelaki pengangguran yang hanya menghabiskan waktu main kartu di pos ronda. Uang seratus ribu lebih dari cukup baginya.

***

Sejak itu, Sahdan yang punya sawah beberapa hektar tak lagi sibuk mengurus sawahnya. Ia lebih sering ke sungai, mencari sampah apa saja untuk dipungut. Kadang ia temukan bekas pampers bayi, kadang ia temukan pula bekas kardus mi instan. Ia masukkan semuanya ke dalam karung. Tak jarang pula ia berpapasan dengan Muhidin yang juga menenteng karung dengan tujuan yang sama. Sahdan memberi senyum, Muhidin pun membalas.

KLIK INI:  5 Puisi Chairil Anwar Bermetafora Alam yang Akan Terus Hidup Seribu Tahun

Sementara si Mariam berniat ke warung Mpok Sadnah untuk membeli apa saja yang bisa menyisakan sampah, seperti air mineral, permen, snack dan nasi bungkus. Tapi sayang, Mpok Sadnah tak buka warung. Mpok Sadnah sibuk membuka semua bungkus barang dagangannya untuk dijual nanti pada lelaki berjubah jika ia datang lagi.

Mariam pun melanjutkan perjalanan ke kebun mencari bekas botol air mineral yang ditinggalkan para pemuda yang biasa minum tuak di sana. Hampir satu jam, Mariam hanya menemukan tak kurang dari sepuluh bekas botol air ukuran tanggung. Ia pun memungut dan memasukkannya di dalam warung.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Haji Kosim cemberut. Pembantunya sulit mendapatkan kios untuk membeli air mineral. Haji Kosim terbiasa minum pakai air mineral. Ia sangat anti meminum air sumur yang dimasak. Haji Kosim marah-marah dan mengutuk kedatangan si lelaki berjubah itu.

***

Tepat dua minggu, lelaki berjubah itu datang lagi. Seperti biasa, langit sedang cerah, kilat tiba-tiba menyambar. Suara besar yang memekakkan telinga terdengar. Kemudian langit terbelah dan lelaki berjubah dengan kereta kencana muncul. Senyumnya pun masih sama. Warga berteriak gembira, semua keluar dari rumah membawa semua barang yang akan dijual. Warga berebutan agar dapat antrian lebih dulu. Sebuah timbangan berwarna emas dikeluarkan. Warga satu persatu mulai ditimbang barangnya dan dibayar langsung. Kali ini, harga satu kilo barang bekas itu seharga 680 ribu. Naik 20 ribu, sebab harga emas juga naik.

“Bener kan, memang sesuai harga emas,” bisik Sahdan pada Mariam, sembari mereka menunggu antrian. Tampak Sahdan membawa barang dua karung ukuran tanggung. Sedangkan Mariam hanya membawa 1 karung saja. Muhidin di belakang mereka, ada sekitar satu karung setengah yang dipunya Muhidin.

KLIK INI:  Patok di Tengah Petak Sawah

Mereka tak sabar menunggu barang mereka ditimbang dan dibayar dengan lembaran uang. Tampak mata Sahdan berbinar melihat setumpuk uang yang dikeluarkan lelaki berjubah itu. Muhidin pun tak pernah berkedip dan pandangannya lebih banyak ke tumpukan uang itu. Apalagi, Muhidin berjanji pada Maisarah. Perempuan yang tiga hari lalu menjadi kekasihnya. Jikalau besok mereka akan pergi kencan dan makan bakso yang sudah lama Muhidin idam-idam kan.

Hampir setengah hari, baru antrian mereka habis dilayani. Lelaki berjubah itu tersenyum, kereta kencananya berjalan, berlalu pergi, dan terbang ke langit. Warga melepas kepergiannya dengan penuh syukur. Semua berucap dalam hati, agar lelaki berjubah itu kembali lagi dalam waktu yang tak lama. Masing-masing berjalan pulang dan masuk dalam rumah.

***

Begitulah seterusnya, orang-orang tetap mengumpulkan sampah. Lelaki berjubah itu tetap datang. Kadang seminggu sekali ia datang. Kadang dua Minggu sekali. Kadang satu bulan sekali. Hingga bertahun-tahun lamanya ia tetap datang. Meski warga merasa kesulitan entah di mana membeli kebutuhan pokok. Para pedagang malas jualan.

Para petani malas ke sawah. Para tukang sayur, membiarkan rombongnya nganggur. Mereka lebih memilih mencari sampah, ke sungai, jembatan, ke sawah, ke kebun, ke tempat mana saja yang kira-kira ada sampahnya. Tak jarang satu warga bertengkar dengan warga lain sebab merebutkan sampah yang bersamaan mereka temukan. Kadang warga satu masuk malam-malam ke rumah warga yang lain untuk mencuri sampah. Begitu seterusnya.

Hingga pada suatu hari, Sahdan mengeluh. Ia sudah mengumpulkan hampir dua kamar full bermacam sampah. Tapi si lelaki berjubah sudah dua bulan tak kunjung datang. Begitupun warga yang lain, semua mengeluh.

“Apa mungkin lelaki itu tak datang lagi?” Tanya Muhidin dalam hati.
“Kenapa lelaki berjubah itu tak kunjung datang?” Gerutu Mariam dalam hati.

KLIK INI:  Ayah dan Dapur Ibu

Bahkan sampai genap satu tahun, lelaki berjubah tak pernah muncul. Warga mulai kesal. Sahdan, yang sudah mengumpulkan sampah sampai semua rumahnya terisi sampah, akhirnya memilih mengangkut semua sampah itu dan dibuang ke sungai. Warga lain yang melihat pun ikutan. Satu-persatu mengangkut sampah yang sudah dikumpulkan dan dibuang ke sungai. Mereka kecewa sebab lelaki berjubah tak pernah datang lagi. Sampah-sampah itu menumpuk di sungai.

Pada suatu malam, kilat terlihat di langit. Suara besar memekakkan telinga terdengar. Warga kaget, jangan-jangan si lelaki berjubah datang lagi. Namun hanya gerimis yang turun. Gerimis yang tiba-tiba berubah menjadi hujan yang deras. Deras sekali. Hujan itu tak kunjung henti. Sampai genap tujuh hari. Dusun itu diguyur hujan. Air sungai melimpah. Akhirnya sesuatu terjadi……..

***

Kini, semua warga dievakuasi di dataran yang lebih tinggi. Tenda besar didirikan untuk tempat warga sementara tinggal. Hujan masih saja datang. Muhidin, Sahdan, Mariam dan warga lain duduk membentuk lingkaran. Entah apa yang mereka sedang obrolin. Yang pasti, setelah sekitar sepuluh menit, aku melihat mereka sama-sama beranjak berdiri. Kemudian berjalan ramai-ramai mendekat ke arahku. Aku melihat wajah mereka semuanya begitu geram. Mereka terus berjalan dan mendekatiku. Setelah mereka berada hanya satu meter saja di depanku, Sahdan angkat bicara.

“Apakah kalian tahu siapa yang harus disalahkan dalam peristiwa ini?” Suara Sahdan setengah teriak. Warga yang lain ngangguk-ngangguk. Semua menatapku tajam.
“Yang harus disalahkan adalah dia…!!!” Tambah Sahdan sembari menunjukku.
“Sebab dia yang membuat cerita ini. Apa sulitnya ia buat sebuah ending yang bahagia? Kenapa ia harus membuat sebuah ending yang pilu seperti ini? Dia yang harus bertanggung jawab..!!!” Pungkas Sahdan sembari mengeluarkan sebuah parang dari balik bajunya.

Aku gemetar. Hanya bisa menunduk. Tak tahu musti menulis apa lagi. Sungguh, aku tak mampu menulis apa pun lagi.

****

Majidi, 2019

Rifat Khan, lahir pada tanggal 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat Metro Riau, Majalah Cempaka, Suara NTB, Lombok Post, Radar Surabaya, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Sulbar, Banjarmasin Post, Satelit Post, Basabasi, Tabloid Nova, Detikcom, Cendana News, Majalah Simalaba, Tribun Jabar, Bali Pos, Padang Ekspres, Sinar Harapan, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Riau Pos dan Republika. Kini mukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

KLIK INI:  Lelaki yang Menjelma Api
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!