Lelaki Penunggu Ikan

Di atas karang nan cadas ada sebuah sapu tangan. Ketika pagi yang gigil, Runduma duduk di dekat karang itu, membisu. Air laut pasang surut, namun penampakan samudera membiru di kejauhan tiada pernah l...

Lelaki Penunggu Ikan
Bacakan Artikel

Dugaan warga itu diperkuat oleh para orang tua kampung. Menurut mereka, kapal-kapal yang hilang itu terjebak di salah satu titik keramat di tengah samudera. Di sana ada istana raja dan ratu ikan. Istana itu dijaga oleh jin-jin jahat yang tidak segan-segan melantahkan kapal dan manusia bila kebetulan melintasi wilayah keramat itu.

Konon ikan-ikan memang beranak pinak di sana. Ratu ikan menyiapkan makanan segala rupa tiada habis-habisnya bagi para koloninya. Karena itulah, raja ikan memberlakukan peraturan yang ketat yakni larangan keras bagi semua ikan di kawasan istana melewati tapal batas yang telah ditentukan. Kalau ada yang berani keluar, kutukan dari raja dan ratu ikan tidak main-main. Ikan pemberontak itu akan dilenyapkan ingatannya, sehingga ia akan terlantar di daratan. Dan di sanalah, ikan-ikan itu akan merasakan penderitaannya; di sayat-sayat dan diarak oleh manusia keliling kampung. Atau ikan-ikan terkutuk itu akan segera dilumat ikan-ikan di luar istana yang sekian lama menyimpan dendam dan kecemburuan.

Apakah Kapal Kundura dan Sanuri serta kapal-kapal nelayan lainnya terdampar di tempat yang demikian menyeramkan itu? Kalau memang benar, maka harapan bahwa mereka masih hidup sama saja dengan mengharapkan bisa menemukan jarum di pusaran ombak menggulung. Dugaan ini lebih dipercaya oleh warga desa Paramunta, meski berkali-kali pihak pemerintah mengumumkan kemungkinan penyebab hilangnya kapal nelayan dalam bahasa ilmiah yang memusingkan warga. Apalagi, ketika pihak pemerintah menyatakan bahwa kapal-kapal nelayan itu boleh jadi hanya terdampar di pulau-pulau kecil. Dan karena pulau-pulau itu asing bagi nelayan, mereka pun tak tahu jalan pulang sehingga mereka kemungkinan tinggal di sana.

Tentu agak sulit dipercaya warga desa Paramunta, karena menurut mereka para nelayan di kampung itu sangat ulung. Mereka sangat paham arah mata angin. Tahu tentang kemana ia harus mengarahkan kapal saat berada di pulau terasing sekalipun. Lagi pula,sebagian besar pelaut kampung sudah pernah mampir di pulau-pulau terasing bahkan yang seluas rumah sangat sederhana sekalipun. Dan, kalau saja mereka mampir di pulau terasing, tidak pernah berbulan-bulan. Paling juga sekedar melewatkan badai petir atau ombak menggunung saat cuaca buruk.

Segenap keluarga korban nelayan yang hilang memang sudah sejak lama pasrah. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, keluarga yang ditinggalkan telah menunaikan ritual doa untuk arwah keluarga mereka. Pakaian dan segala harta benda para korban dikumpulkan lalu disedekahkan ke sanak keluarga terdekat atau pada orang-orang miskin. Mereka berharap benda-benda peninggalan itu bernilai amal arwah keluarganya di alam sana bisa diberi imbalan lebih dari yang kuasa.

Satu-satunya keluarga yang masih menyimpan harapan besar adalah Runduma. Lelaki itu, bersama isterinya sudah berjanji akan melakukan saum sampai anak-anaknya datang. Keduanya yakin, kedua anaknya masih hidup. Konon, Sanuri dan Kundura sudah berjanji pada Runduma, akan membawa hasil tangkapan sebanyak mungkin. Buat bekal pernikahan mereka di bulan november sebelum musim hujan mendatangkan gulungan ombak nan ganas.

***

Maimunah hanya bisa memasak nasi yang hampir separuhnya hangus. Tubuhnya terkulai lemas. Jemarinya yang menggigil seperti tidak kuat lagi mengulet garam dan cabe rawit. Perempuan itu sedang menyiapkan makan malam seperti biasa. Kali ini hanya ada nasi, ikan kering goreng dan sambel apa adanya.

Malam semakin menjauh, suaminya belum datang juga. Ia menanti. Tak mungkinlah ada makan malam tanpa Runduma, lelaki yang berpuluh-puluh tahun memberinya cinta dan kehidupan.

Maimunah mengambil kerudungnya, kali ini ia sembahyang terlebih dahulu. Ia berdoa dengan mata sembab membengkak. Terbayang di benaknya, bagaimana ikan-ikan paus yang terdampar beberapa bulan lalu itu disembelih oleh warga tanpa ampun. Ia berharap semoga kedua anaknya tidak dijadikan korban balas dendam oleh paus-paus raksasa. Semoga! Maimunah sangat berharap, namun harapannya itu terasa pupus lantaran ia kembali teringat kejadian itu: Runduma menyembeli hidup-hidup paus yang terdampar di sebuah sore berwarnah merah darah.Dan teringat jelas, bagaimana Sanuri menancapkan belati persis di perut paus itu. Teringat itu, Maimunah terus menangis hingga tangannya yang menengadah ke langit tiba-tiba kaku dan ia pun tumbang dalam posisi kepalanya bersujud ke sejadahnya yang kusam.

Sementara Runduma masih duduk di pinggir laut. Seperti senja sebelumnya, Kundara melihat bagaimana ikan-ikan raksasa saling bergulat. Dan saat senja hampir tenggelam, ia melihat sebuah kapal seolah bergerak ke arahnya. Bathinnya riang gembira. Segera ia menyekah air matanya yang sepanjang waktu terus mengucur. Sapu tangan hitam milik Kundura kini basah, pekat dan anyir. Runduma mencoba tersenyum, saat ia terbayang tangan kedua anaknya melambai-lambai padanya. Namun, betapa kagetnya ia, saat bayangan ikan besar berwarna hitam menggulung kapal itu, merengkuhnya ke samudera nan jauh.

Malam tanpa bintang mungkin musim hujan sudah semakin dekat, pandangannya tiada berdaya. Air matanya tumpah lagi. Runduma berjalan lambat hendak pulang ke rumahnya. Kali ini ia membawa sapu tangan, menahan air matanya membanjiri tubuhnya. Runduma hampir lupa bila malam sudah larut. Setiba di pintu rumahnya, ia lekas menghampiri meja makan. Ditemukannya jamuan makan malam tanpa cela. Dimana Maimunah? Runduma menemukan isterinya bersujud digenangi air mata. Maimunah beku.

Keesokan harinya dan hari-hari setelahnya, tiada lagi sapu tangan di atas karang nan cadas. Tiada lagi lelaki yang sepanjang hari akan duduk bersimpuh hingga senja tenggelam. Runduma kini, menunggu hari siang dan malam di samping makam Maimunah.

Lompobattang 2014

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2