Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Langit Mahakam dan Kupu-Kupu Bantimurung

Pohon yang dulu berimbun, tiada hentinya tertiup angin kemarau. Daun-daun yang telah kehilangan klorofil itu berguguran dan berserakan di pekarangan rumah. Hembusan angin kadang kuat dan lemah membawa...

Oleh ilhamaidil@gmail.com 22 Sep 2024 11:40 7 menit baca
Pohon yang dulu berimbun, tiada hentinya tertiup angin kemarau. Daun-daun yang telah kehilangan klorofil itu berguguran dan berserakan di pekarangan rumah. Hembusan angin kadang kuat dan lemah membawa hawa panas dan debu. Pancaran hijau yang biasanya menutupi sekeliling rumah berganti menjadi daun-daun kering yang memasrahkan diri pada bumi yang semakin terbawa usia. Embun yang biasa bergantungan pada ujung-ujung daun dan rerumputan di pagi hari tidak terlihat. Lelaki bernama Anwar itu baru saja terbangun dari tidurnya dengan aroma minyak kayu putih masih menempel di keningnya. Kepalanya sakit dan hidungnya tersumbat. Beberapa hari ini ia tidak lagi ke kantor. Terkena dampak layoff dari perusahaannya. Pagi-pagi Ia mengambil panci dan menjerang air. Membuat secangkir kopi. Harinya kini lebih banyak dihabiskan di rumah dan berkebun. Menanam aneka jenis sayuran; bayam, kankung, dan cabai. Mendadak menjadi petani musiman. Yang setiap pagi ia menunggui daun-daunnya berkecambah. Semata-mata pengisi waktu bagi pria yang ditetak sunyi. Menyiram dan merawatnya agar tidak terkapar panasnya kemarau. Kesenangannya di setiap pagi dan sore. Sembari merenungi nasib dan istrinya. Siang-siang, Ia keluar rumah hendak memunguti pakaian kering yang terjatuh dari jemuran baju. Pagi sebelum Istrinya berangkat ke Rumah Sakit, Istrinya, Winda, berpesan agar menjemur dan memunguti pakaian jika sudah kering. Winda tidak sempat menjemur karena dikejar waktu. Setelah semalam lembur di Rumah Sakit dan pagi-pagi sudah mesti ke rumah sakit lagi dengan pakaian rapi putih. Tidurnya hanya tiga jam saja. Wajahnya selalu pucat karena kurang tidur. Tidak lagi sempat menyiapkan sarapan untuk suaminya yang sedang sakit. Sudah menjadi resiko bagi anwar yang beristrikan seorang perawat. Kadang ditinggal sendiri ketika Istrinya jaga malam. Mungkin salah satu penyebab kenapa hingga sekarang, setelah tiga tahun pernikahan mereka belum juga mendapatkan momongan. Dan menjadi bahan gunjingan tetangganya. Yang kadang menggangu tidur nyenyak mereka. Sebagai sepasang suami istri, mereka sangat merindukan kehadiran buah hati. Kehidupan mereka seperti tidak terhibur dan kian berjarak. Di teras rumah Anwar sendirian, Winda sedang jaga malam. Ia mengedarkan pandangan dan sesekali membuka layar ponselnya. Angin berkesiur dingin. Tiba-tiba ada pesan yang menandainya di group WA teman kuliahnya dulu. Yang kini masih aktif mendaki gunung. [irp] “Gimana kabar, Bro?” “Sehat, kamu bagaimana?” “Baik Bro. Keluarga?” “Aman Bro.” “Oyah ini saya mau ajak pergi healing, siapa tahu mau join sama anak-anak.” “Kapan?” “Sabtu ini.” “Lusa berarti?” “Iya.” “Okee. Dimana?” “Yang dekat-dekat saja, Bulusaraung.” “Noted.” Anwar segera mengabari Istrinya Winda yang tengah jaga malam di rumah sakit. “Winda, lusa saya mau pergi mendaki.” “Oh sama siapa?” “Sama teman.” “Baik.” [irp] Karena banyak pasien dan jadwal klinik yang padat. Kemungkinan Winda juga tidak akan pulang ke rumah beberapa hari ke depan. Menginap di rumah temannya, Ratmi. Dan sesekali menginap di hotel dengan alasan mengikuti Training pengembangan kapasitas perawat. Dan Anwar tidak pernah menaruh rasa curiga kepada Winda.
***
Duduk bermandikan matahari sore di Bulusaraung, menyaksikan matahari terbenam menjadi kemewahan bagi Anwar. Seutas senyum seperti terbawa langit sore. Seekor kupu-kupu berbintik-bintik kuning tersesat, barangkali itu kupu-kupu Bantimurung yang mengira rumahnya ada di sini. Atau mungkin melarikan diri dari sergapan penangkap kupu-kupu. Ia meninggalkan rumahnya. Udara menukik tajam dan kupu-kupu itu terbawa angin, terbang dan menghilang di balik bebatuan. Seperti halnya kupu-kupu tadi, Anwar merasa dirinya lelaki yang kehilangan rumah. Tidak tahu arah jalan untuk pulang. Ia tidak mampu memberikan rumah kebahagiaan bagi Winda. Hubungan pernikahannya berada di ujung tanduk. Sampai sekarang belum pasti siapa yang menderita sakit atau mandul. Anwar ataukah Winda. Namun, ia berupaya menjadi lelaki yang kuat. Berharap semuanya baik-baik saja. Harusnya ia segera pulang berobat dan memastikan bahwa ia tidak menderita penyakit. [irp] Sepulang dari mendaki, Anwar berdiskusi dengan Winda untuk sama-sama menemui dokter. Mereka sepakat, Winda menyarankan untuk menemui dokter yang dikenalnya di rumah sakit dimana Winda bekerja. Tetapi untuk menghindari kecurigaan dari teman-teman Winda di rumah sakit, mereka memutuskan untuk menemui dokter itu di kliniknya saja. Hasilnya tidak lansung keluar, dokter melakukan pemeriksaan dan uji lab selama beberapa hari. Kemungkinan tiga hari paling lambat satu minggu untuk memastikan apakah Anwar atau Winda mengalami kemandulan. Dokter itu menyarankan untuk memperbanyak konsumi sayur-sayuran dan buah-buahan, menghindari stress dan menjaga pola hidup dengan rajin berolahraga. Untuk dijadikan sampel pada pemeriksaan berikutnya. Hampir sebulan mereka bolak-balik menemui dokter tersebut. Dan hasilnya keluar. Anwar dinyatakan mengalami kemandulan setelah mendengar penjelasan yang gamblang dari dokter yang menanganinya selama ini. Ia sangat terpukul. Ada rasa asing berkelabat di kepalanya. Ia meminta maaf kepada Winda. Ada rasa malu yang membuncah pada dirinya. Anwar sangat terpukul mengetahui dirinya mengalami infertilitas. *** Malam menjadi hening. Anwar tidak sengaja membuka Handphone milik Winda yang ditinggalkannya di atas meja makan ketika hendak ke toilet. Dan mendapati pemberitahuan, pesan dari Ratmi di layar handponenya. “Ada baiknya kamu minta cerai saja dari suamimu Win.” Agar istrinya tidak curiga, Ia menaruh kembali HP winda di posisi semula. Seolah-seolah tidak tahu apa-apa.. Ada rasa takut dan cinta yang berhamburan. Malam itu ia tidur terpisah dengan Winda. Anwar ingin menyendiri di kamar yang hening. Hanya ada lampu-lampu hias dibiarkan menyala. Tidak lagi mencicipi hidangan makan malam dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Tidak bergeming. Ia ingin marah. Ia benar-benar semakin terpukul. Malam berikutnya dengan pikiran yang sudah tidak terkendali. Ia menghampiri dan menyentuh Winda yang sedang terlelap. Winda tersadar dan mencoba mengelak. “Kau adalah istriku.” Anwar ingin membuktikan bahwa ia baik-baik saja setelah meminum berbagai ramuan dan tiga telur ayam kampung dengan madu. [irp] “Untuk apa saya menikahimu, dan tanah warisan sudah tergadaikan. Dan aku masih suamimu dan biarkan saya membuktikan untuk terakhir kalinya.” Winda tidak kuasa menolak. Cengkraman tangan Anwar begitu kuat. Emosi  dan hasrat itu berpadu menjadi sebuah energi yang dahsyat. Setelah menggaulinya, malam itu juga Anwar memutuskan berpisah dengan Winda. Ia menceraikan Winda. Winda mengusap air matanya. Antara menyesal atau menyembunyikan sesuatu.
****
Setahun setelah berlalu, sebuah kebenaran akhirnya terungkap, Winda dalam hati kecilnya masih ada rasa cinta untuk Anwar. Tetapi semua menjadi rumit ketika Winda selingkuh dengan sang dokter. Winda berbohong. Ia telah membohongi semua orang. Ia dan dokter itu bersekongkol untuk memberikan keterangan palsu atas hasil pemeriksaan yang selama ini dijalaninya. Anwar tidak sepenuhnya mandul. Hanya saja ia membutuhkan terapi. Tapi semua sudah berlalu. Winda menikah dengan Anwar karena perjodohan keluarga mereka. Winda memilih bersama dengan dokter yang dikenalnya semenjak bertugas di rumah sakit. Winda bak kupu-kupu malam. Yang selalu menemani sang dokter di setiap malamnya di rumah sakit. Dengan alasan jaga malam, hanya akal-akalannya saja untuk bisa bertemu dengan sang dokter. Kabarnya dari tanah anging mammiri Winda baru saja melahirkan entah itu anak darinya atau dari dokter itu. Anwar tidak lagi peduli. [irp] Senja baru saja beranjak meninggalkan hutan Kalimantan yang lebih separuhnya kini dibabat menjadi Ibukota baru. Satwa-satwa liar kehilangan tempat tinggalnya. Anwar, lelaki malang itu, terluka dan sangat dalam seperti sungai Mahakam. Sekarang ia menjadi seorang duda. Tanpa beban dan tanpa tanggung jawab lagi untuk menafkahi dan menghidupi anak yang belum tentu adalah darah dagingnya. Kini ia hijrah ke Kalimantan atas ajakan temannya, bekerja sebagai pemerhati lingkungan di salah satu LSM yang cukup aktif dalam isu lingkungan, Ia banyak menelusuri hutan dan rawa-rawa di Kalimantan. Sekarang ia hanya ingin melanjutkan hidup saja. Tidak ingin membahas tentang Winda kembali. Semua sudah selesai. Di atas perahu kecil ia menelusuri sepanjang arus sungai, sungai yang memisah hutan-hutan Kalimantan dan menyanyikan lagu Michael Bubble, “Home”. Another summer day is come and gone away In Paris and Rome But I want to go home Maybe surrounded by a million people, I still feel all alone I just want to go home Oh, I Miss you, you know… Pulpen di tangannya, Ia catat setiap jengkal perjalannya entah keperluan riset atau apa dan sesekali memotret pemandangan yang dilewatinya. Begitulah menikmati hidup dan tugasnya yang baru. * [irp]
Topik terkait
#cerpen lingkungan #kupu-kupu bantimurung #sastra dan lingkungan #langit mahakam #angin kemarau