Lancipan Maros, Teknologi Pertama Manusia Prasejarah

Klikhijau.com - Siang itu di sebuah gua di Desa Sabila, Kecamatan Mallawa, Maros. Tepatnya pada pertengahan November 2018. Tim arkeolog Makassar melakukan penggalian sistematis di Leang Uttangnge. Lea...

Lancipan Maros, Teknologi Pertama Manusia Prasejarah
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Siang itu di sebuah gua di Desa Sabila, Kecamatan Mallawa, Maros. Tepatnya pada pertengahan November 2018. Tim arkeolog Makassar melakukan penggalian sistematis di Leang Uttangnge. Leang berarti gua dalam bahasa Makassar.

Gua ini tak memiliki nama saat pertama kali tim menyambangi gua yang berada di karst muda Mallawa. Nama barunya diperoleh setelah tim peneliti melakukan rembuk dan memutuskan mengambil nama kampung di mana lokasi gua berada. Jadilah namanya Leang Uttangnge.

Tim Balai Arkeologi Sulawesi Selatan yang melakukan penelitian di wilayah Mallawa ini sebanyak dua belas orang. Tak hanya peneliti balai arkeologi saja, namun melibatkan sejumlah instansi lain.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, staf pengajar dan mahasiswa jurusan arkeologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, alumni arkeologi Unhas adalah beberapa intansi lain yang terlibat. Tak ketinggalan tim dokumentasi dan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga turut serta.

Tim ini meneliti hubungan ras manusia Toalian dan penutur Austronesia. Mencari bukti-bukti tinggalannya melalui survei hingga melakukan penggalian sistematis (ekskavasi). Tim telah melakukan penelitian selama tiga minggu saat saya bergabung.

Sejak bersentuhan dengan dunia prasesejarah, saya begitu penasaran dengan salah satu tinggalannya: Lancipan Maros. Sebagian arkeolog juga lebih senang menyebutnya Maros Point. Saya penasaran bagaimana manusia prasejarah membuat alat batu ini, termasuk namanya yang selalu melekat nama โ€œMarosโ€. Nama salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan.

Mengapa arkeolog memberi nama Lancipan Maros? Apakah alat semacam ini pertama kali ditemukan di Maros? Siapa yang pertama kali mendeskripsikannya? Apakah mata panah seperti ini tak ditemukan di tempat lain? Itulah sejumlah tanya yang menyeruak kala membahas mata panah manusia prasejarah ini.

Hingga akhirnya saya melihat langsung proses penggalian untuk memperoleh peralatan manusia yang hidup ribuan hingga puluhan ribu tahun lalu ini.

Bagaimana Memperoleh Lancipan Maros?

Khairun Al Ashari, alumni arkeologi Unhas, mengambil alih penggalian sistematis. Ia menggantikan Isbahuddin, juga seorang alumni arkeologi Unhas yang berfokus membuat desain penggalian baru di dalam Leang Uttangnge. Penggalian saat itu berlangsung di teras gua. Khairun berada di lapisan (spit) tiga saat menggantikan Isbahuddin.

Ukuran kotak penggalian umumnya berukuran satu meter persegi. Ini adalah standar ekskavasi, bisa lebih luas tergantung tujuan penelitian dan petunjuk yang diperoleh. Kedalaman penggalian pun juga bergantung tujuan dan kondisi lapangan.

Pada bagian paling atas disebut spit permukaan. Umumnya berukuran 10 sampai dengan 20 cm dari patokan datar berupa benang yang telah dibentangkan saat membuat desain penggalian (layout). โ€œPatokannya adalah titik yang paling tinggi pada salah satu sudut kotak penggalian. Bentangan benag sebagai titik padu utara-selatan dan rujukan pengukuran tiga dimensi (x/y/z). Benang tersebut kemudian disebut String Line Level,โ€ terang Ratno Sardi, peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Selatan.

Selanjutnya spit berikut mulai menggunakan angka (spit 1, spit 2, dan seterusnya). Ukuran lapisannya masing-masing kedalaman 10 cm.

Ia terus menggerakkan cetok besinya. Mengumpulkan kaisan tanah dan menyendoknya dengan sendok plastik besar. Kemudian mengumpulkannya di ember hijau di sampingnya. Jika ember telah penuh, lalu mengayaknya untuk memisahkan tanah dan tinggalan manusia prasejarah.

Saat mendapati temuan ia mengganti cetoknya dengan bilah bambu yang runcing. Bilah bambu ini digunakan untuk menyikap temuan yang rapuh, agar temuan tidak rusak.

Tak seberapa lama berselang Khairun berseru. Ia menjumpai Lancipan Maros utuh. Berbentuk segitiga sama kaki. Dua sisinya bergerigi dan sisi pangkal terdapat cekungan, ย sengaja dibentuk oleh pembuatnya.

Ia tampak sangat senang. Khairun begitu kenal dengan Lancipan Maros. "Barang ini yang membuat saya jadi sarjana," ujarnya. Betul saja Khairun bercerita bahwa saat menyusun skripsi, ia berfokus meneliti Lancipan Maros di Leang Panningnge, Desa Batu Putih, Mallawa, Maros.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: