Lagi dan Lagi, Harimau Sumatera Ditemukan Kehilangan Nyawa

Klikhijau.com – Kematian  harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) semakin kerap terjadi. Apakah itu sebagai tanda jika dunia si belang akan berakhir? Dokumen Strategi Rencana Aksi Konservasi, K...

Lagi dan Lagi, Harimau Sumatera Ditemukan Kehilangan Nyawa
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Hal yang mencemaskan adalah kasus konflik antara harimau sumatera dengan manusia cukup intens.

Pada periode Januari hingga Maret 2020 saja, BKSDA Aceh  mencatat ada delapan kasus konflik harimau dan manusia

Angka itu dianggap tinggi, mengingat sepanjang tahun 2019 badan tersebut mencatat sembilan kasus.

Penyebab konflik itu diduga kuat karena habitat harimau sumatera semakin berkurang. Data dari Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA), menyebutkan rata-rata 1.200 ha hutan di Aceh rusak setiap bulannya.

Itu artinya secara akumulatif, dalam tahun 2019 tercatat seluas 15.140 ha hutan beralih fungsi menjadi kelapa sawit dan lainnya. Ini tentu saja jadi sinyal buruk bagi keberlangsungan hidup harimau sumatera.

Perubahan kawasan hutan

Menurut Agus, masuknya harimau   ke lokasi perkebunan lantaran adanya perubahan kawasan hutan alam menjadi area hutan produksi atau Area Penggunaan Lain (APL). Harimau pun kehilangan habitatnya dan daerah pelintasan.

Untuk kasus kematian harimau sumatera di Trumon Timur,  Agus menyebutkan pihaknya belum mengetahui penyebab kematian satwa dilindungi tersebut.

Namun demikian, BKSDA sudah menurunkan tim nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian.

"Jenis kelamin diketahui betina. Namun, usia harimau Sumatera tersebut belum diketahui. Setelah pemeriksaan tim nekropsi baru diketahui semuanya," terangnya.

Keberadaan harimau di lokasi perkebunan diketahui setelah ada warga melaporkan adanya hewan ternak warga dimangsa harimau.

Mendapat laporan tersebut petugas konservasi bersama mitra dan kepolisian mengecek lokasi ternak masyarakat dimangsa harimau.

Saat dicek ditemukan ditemukan tapak kaki harimau dan enam bangkai kambing dalam kondisi tidak utuh.

Petugas bersama mitra kemudian memasang sejumlah kamera untuk melihat pergerakan harimau.

"Saat mengambil rekaman kamera yang dipasang sehari sebelumnya, tim menemukan seekor harimau telah mati. Penyebab kematian baru diketahui berdasarkan hasil nekropsi nanti," kata Agus.

Agus  mengimbau semua lapisan masyarakat untuk tidak melakukan penanganan konflik satwa liar dan manusia dengan cara-cara yang bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku

Bangkai harimau tersebut ditemukan setelah petugas Seksi Konservasi Wilayah 2 dan Resor Konservasi Wilayah 16 Trumon, Aceh Selatan.

Jika habitat si belang tidak terlindungi, maka konflik antara manusia akan terus terjadi. Itu pasti akan semakin mengantarnya ke jurang kepunahan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2