Kualitas Pemberitaan Terkait Perubahan Iklim di Daerah Masih Rendah

Klikhijau.com - Kajian terkini menunjukkan bahwa pemahaman para wartawan dalam meliput dan memberitakan perubahan iklim di Indonesia tidak sebanding dengan pelatihan terkait konsep-konsep iklim maupun...

Kualitas Pemberitaan Terkait Perubahan Iklim di Daerah Masih Rendah
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Kajian terkini menunjukkan bahwa pemahaman para wartawan dalam meliput dan memberitakan perubahan iklim di Indonesia tidak sebanding dengan pelatihan terkait konsep-konsep iklim maupun energi yang mereka dapatkan.

Selain itu kesenjangan mencolok juga terjadi pada pemberitaan di daerah. Selain sangat jarang membahas hubungan antara kondisi cuaca ekstrem dengan perubahan iklim yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia, informasi yang dikutip dari para ilmuwan pun hanya lima persen dari keseluruhan isi berita.

Kendati demikian, terdapat minat yang tinggi dari para wartawan untuk memperdalam pemahaman mereka terkait isu-isu iklim dan energi, salah satunya melalui kemudahan mengakses informasi ilmiah dan sumber-sumber yang lebih luas.

Ini merupakan beberapa hal yang menjadi fokus dalam program “Supporting Climate Reporting in Indonesian Newsroom” (dukungan peliputan iklim dalam pemberitaan di Indonesia), kolaborasi antara Monash Climate Communication Hub (MCCH - pusat komunikasi iklim Monash University), Australia-Indonesia Centre (AIC), dan Universitas Hasanuddin (Unhas) yang melibatkan 15 wartawan dari Sulawesi Selatan. Program ini didanai oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT - departemen luar negeri dan perdagangan Australia) melalui Australia-Indonesia Institute (AII).

Pemberitaan tentang iklim di Indonesia selama ini banyak bergantung pada sumber-sumber dari pemerintah (45 persen) dan dunia usaha (40 persen). Berita yang disampaikan jarang menegaskan hubungan antara perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem karena lebih fokus pada upaya tanggap bencana, ketimbang menginvestigasi penyebab perubahan jangka panjangnya.

Hasil kajian dari program ini menggarisbawahi kebutuhan yang mendesak untuk melengkapi para wartawan dengan pengetahuan tentang iklim dan energi, tantangan serta solusinya demi menghasilkan jurnalisme lokal yang berwawasan. Sebab diketahui pula bahwa wartawan yang telah mendapatkan pelatihan tentang topik ini, cenderung lebih sering dan lebih percaya diri dalam memberitakannya.

Program ini mencakup beberapa kegiatan, seperti sesi-sesi diskusi terpumpun di Makassar, mengunjungi kampung pesisir Laikang di Kabupaten Takalar untuk mengobservasi langsung tantangan iklim yang dihadapi masyarakat nelayan dan petani rumput laut.

Beberapa wartawan terpilih juga berangkat ke Melbourne untuk pelatihan intensif bersama pakar iklim Monash University, termasuk Profesor Andrew Watkins, terlibat dalam sesi pelatihan jurnalistik berbasis solusi yang diampu oleh tim Monash Constructive Institute Asia Pacific Hub.

Para wartawan juga berdiskusi dengan beberapa peneliti AIC yang tengah menjalankan risetnya di Sulawesi, membahas potensi kolaborasi, serta berbincang bersama sejumlah wartawan Australia.

Kolaborasi dan program ini berhasil menunjukkan adanya potensi yang besar untuk terus memperkuat hubungan antara pewarta dan para pakar maupun sumber-sumber ilmiah, serta perlunya pelatihan untuk membangun wawasan terkait perubahan iklim dan solusi yang bisa diupayakan bersama.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2