Kopi Andalan yang Perlahan Punah di Kindang, Bulukumba

Klikhijau.com – Tak jauh dari jembatan Teko Bulukumba, jika dari arah Makassar. Silakan belok kiri. Ikuti saja jalannya, jangan belok kiri atau ke kanan bila menemukan jalan bercabang—terus saja, hing...

Kopi Andalan yang Perlahan Punah di Kindang, Bulukumba
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Dari pengamatan saya dan berdasarkan perbincangan dengan warga setempat, saya mengambil titik merah penyebab kopi mere terancam punah.

-  Pohon pelindung banyak yang tumbang,

Kopi mere, tak bisa berbuat banyak tanpa pohon pelindung, jika ia  terpapar langsung sinar matahari. Kopi jenis ini tak bisa tumbuh dengan subur dan terancam mati, ditambah lagi bijinya akan kecil.

Pohon-pohon tumbang ini disebabkan karena banyak warga sengaja menebang pohon pelindung tersebut untuk keperluan berbagai, semisal membangun rumah dan lainnya.

Yang kedua tumbang karena angin kencang yang beberapa kali melanda Desa Kindang.

-   Harganya yang terbilang murah

Harga kopi mere tahun ini hanya di kisaran 20.000 ribu rupiah perkilo. Harga itu tak sebanding dengan upaya perawatan dan lainnya. Harganya sangat jauh di bawa harga cengkih
-  Sumarrang

Barangkali kamu akan bingung dengan jenis ini. Sumarrang adalah jenis semut yang kecil berwarna agak kemerah-merahan.

Jika sudah menghuni pohon kopi akan sulit hilang. Ia bisa membunuhnya, warga yang memiliki kebun kopi yang dikuasai sumarrang akan kewalahan saat memetiknya karena gigitannya sakit dan baunya sungguh tak sedap

Pohon cengkih yang menggantikan pohon kopi mere

Masyarakat lebih senang membudiyakan kopi arabika yang dikenal dengan nama kopi bodo ketimbang kopi mere.

-  Lambungang

Kopi mere ditransformasi menjadi kopi bodo dengan cara disambung atau dengan menyambung, yang warga setempat menamainya lambung, sehingga kopi hasil sambungan antara kopi mere dan arabika kemudian dinamai kopi.

Dari hasil penelisikan saya dan perbincangan dengan warga, memang benar bahwa penyebab terancam punahnya kopi mere karena kelima faktor itu. Syahrir misalnya, yang merupakan seorang pemuda Desa Kindang mengakui hal tersebut.

Oya, mengenai kopi mere ketika saya mencarinya di google yang kata orang tahu segalanya. Mesin pencarian yang biasa di panggil om  itu tak menemukannya.

Barangkali karena google  hanya menyediakan pencarian berupa tulisan, jika saja bisa dicari melalui gambar, saya tak akan kesulitan. Dari hasil pencarian itu, saya menemukan bahwa kopi mere sejenis kopi robusta.

Kini, jika kamu berkunjung ke Desa Kindang, kamu tak akan lagi menemui rimbunan pohon kopi mere. Yang akan menyambutmu di sepanjang jalan adalah kebun cengkih.

Kebun itu sebagian adalah eks kebun kopi mere yang pernah “paling” diandalkan di Desa Kindang.

Warga kini lebih senang membincangkan cengkih daripada kopi mere, meski setiap hari ritus minum kopi tak pernah alpa.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2