KLHK dan BPPT Dorong Teknologi Pengelolaan Emas Ramah Lingkungan

Klikhijau.com – Pengelolaan emas di Sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) masih sangat marak di Indonesia. Sektor PESK bahkan berkontribusi besar di industri emas dunia yaitu sekitar 17-20 perse...

KLHK dan BPPT Dorong Teknologi Pengelolaan Emas Ramah Lingkungan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Pengelolaan emas di Sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) masih sangat marak di Indonesia. Sektor PESK bahkan berkontribusi besar di industri emas dunia yaitu sekitar 17-20 persen dan jumlah tenaga kerja yang terlibat sekitar 15 juta orang.

Aktivitas PESK tersebut telah menyebar di beberapa wilayah terutama pasca reformasi 1998. Umumnya, yang terlibat di dalamnya melakukan aktivitas secara informal dengan mengeksploitasi cadangan emas marjinal di daerah terpencil dengan akses yang sulit dijangkau.

Sebagian besar wilayah penambangan tersebut berada di kawasan hutan, hutan lindung bahkan di kawasan konservasi. Bahkan di beberapa tempat, PESK dilakukan di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Faktanya, aktivitas penambangan skala kecil yang bersifat infomal tersebut telah menjadi sumber terbesar dari pelepasan merkuri ke lingkungan.

Penambangan emas dan kerusakan lingkungan

Praktik ini juga bisa berkontribusi terhadap polusi merkuri secara global dan mengkontaminasi ekosistem dunia serta perikanan. Selain itu, merkuri juga bisa berpengaruh terhadap kesehatan manusia dan mengancam pertumbuhan anak-anak.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, menyebut aktivitas PESK telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius.

Hal tersebut disebabkan oleh metode penambangan yang dilakukan masih sangat sederhana dan tidak berdasar pada kaidah penambangan yang ramah lingkungan.

“Ditemukan adanya penggunaan merkuri yang luar biasa yang bisa mencemari lingkungan dan berbahaya bagi Kesehatan,” kata Rosa Vivien dalam sambutannya pada Webinar yang membahas tentang “Pengelolaan emas rakyat yang bertanggungjawab”, 16 Juni 2020 lalu.

Menurut Vivien. meskipun merkuri dampaknya tidak langsung kepada manusia dan lingkungan. Mungkin baru dirasakan dalam 5-10 tahun tapi ternyata berdasarkan penelitian, kandungan merkuri dari beberapa sampel di PESK maupun di darah yang sudah ditinggalkan penambangan emas, dilaporkan bahwa masyarakatnya sudah terkontaminasi.

Oleh sebab itu, KLHK mengusulkan perlunya penambangan emas dilakukan dengan tetap mempertimbangkan dimensi lingkungan. Diantaranya melalui sentuhan teknologi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2