Ketika Kemarau Mengajarkan Kita Cara Menghargai Air

Ketika Kemarau Mengajarkan Kita Cara Menghargai Air
Ilustrasi air-foto/Ist
Bacakan Artikel

 

Klikhijau.com - Kemarau berkepanjangan mengajarkan kita menghargai keberadaan air. Gunakan air bersih secukupnya, jangan mubazir air, dan jangan lupa bersedekah air, agar keberadaannya kian melimpah dan berkah.

Kemarau juga menjadi guru yang paling jujur. Ia tidak banyak bicara, tapi mengajarkan satu pelajaran yang paling dasar, "bahwa air bukan sesuatu yang bisa kita sia-siakan".

Saat keran masih mengalirkan air dengan deras, kita sering lupa bersyukur. Air terasa biasa saja, seperti udara yang kita hirup. Nah, ketika air mulai berkurang, sumur mendangkal, tanah mulai retak, dan selang hanya mengeluarkan desis angin, kita baru tersadar,  betapa berharganya keberadaan air bersih yang selama ini kita anggap remeh.

Perubahan kesadaran itu seharusnya tidak berhenti ketika hujan datang kembali. Namun, harus menjadi ingatan jangka panjang. Bahwa air harus dipakai secukupnya, dijaga agar tidak ternoda limbah, ditampung ketika langit bermurah hati memberinya, dan dikelola dengan mata yang memandang jauh ke depan, bukan hanya untuk hari ini.

Dan itu bukan tugas satu orang. Sebuah keluarga bisa memulainya dari kebiasaan kecil menutup keran yang menetes.

Sekolah bisa mengajarkan anak-anak bahwa membiarkan air mengalir sia-sia adalah sebuah keborosan. Kantor bisa memperbaiki kebocoran yang dianggap sepele. Komunitas bisa menjaga mata air dan selokan di kampungnya. Setiap dari kita bisa menjadi penjaga.

Karena menjaga air bukan tugas dinas tertentu. Ia adalah tanggung jawab bersama. Saat kemarau memanjang, tanggung jawab itu terasa lebih berat dan lebih nyata.

Lihatlah sekeliling. Tanah yang mengeras dan pecah-pecah adalah peringatan bahwa air ada batasnya. Rumput yang menguning adalah pengingat bahwa tumbuhan pun haus. Bunga yang menunduk layu adalah pelajaran bahwa keindahan pun butuh kehidupan, dan kehidupan butuh air. Hewan-hewan yang berjalan jauh mencari kubangan adalah pengingat bahwa dahaga bukan hanya milik manusia. Bahkan pohon yang masih tegak berdiri, dengan daun yang bertahan, adalah penjelasan bahwa alam mencoba beradaptasi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi