Kepungan Bencana di Sulsel, Sebuah Penanda Indonesia Sedang Sakit Parah

Klikhijau. com - Air mata luka dan duka Indonesia akibat bencana alam masih terus menetes. Seolah menolak untuk kering, duka itu terus menjalar, menerjang dengan korban yang tidak sedikit. Masih sa...

Kepungan Bencana di Sulsel, Sebuah Penanda Indonesia Sedang Sakit Parah
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau. com - Air mata luka dan duka Indonesia akibat bencana alam masih terus menetes. Seolah menolak untuk kering, duka itu terus menjalar, menerjang dengan korban yang tidak sedikit.

Masih sangat basah di ingatan kita gempa yang bertamu di Lombok, gempa dan tsunami yang bertandang di Palu dan Donggala. Tsunami yang menjenguk Selat Sunda. Bencana tersebut merenggut banyak nyawa dan materi.

Iya, bencana sepertinya lupa berhenti. Ia terus datang merongrong, melahirkan cemas dan luka duka—yang terbaru Sulawesi Selatan di kepung banjir, angin kencang, dan longsor.

Akibat yang dilahirkan tidak sedikit, bukan hanya  material, tapi kepungan bencana itu menewaskan 30 orang.

[irp]

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) Sulsel hingga siang jelang sore tadi, ada sekitar 78 Desa terdampak bencana dari 52 Kecamatan yang tersebar di 10 Kabupaten/Kota.

“Sebanyak 30 orang meninggal, 25 orang hilang, 47 Orang Luka-luka, 5.825 orang terdampar, 3.321 orang mengungsi.” ungkap  Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Selain duka orang yang meninggal, hilang, luka-luka, yang terdampar hingga yang mengungsi. Bencana tersebut juga merusak 74 unit rumah yang terdiri dari 32 unit hanyut, 25 rusak berat, 2 rusak sedang, 12 rusak ringan, dan 5 tertimbun, dan 2.694 unit rumah terendam.

Kisah pilu itu, kisah yang membuat perih, membuat mata sembap air mata juga merendam 11.433 hektar sawah, merusak  9 jembatan dan 2 pasar. Bukan hanya itu, 6 unit fasilitas peribadatan pun diacak-acak serta 13 unit sekolah rusak.

Sutopo menjelaskan bahwa data seperti yang tertulis di atas itu, masih sementara kemungkinan berubah masih sangat mungkin. Sebab, pendataan masih dilakukan oleh BPBD dan unsur lainnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2