Kenapa Negara Maju Menjadikan Negara Lain Tempat Sampah?
Klikhijau.com – Penemuan 5 kontainer berisi sampah di Surabaya akhir Maret lalu memang menghebohkan. Kontainer datang dari jauh, Seattle yang merupakan negara terbesar di wilayah timur laut pasifik am...
Klikhijau.com – Penemuan 5 kontainer berisi sampah di Surabaya akhir Maret lalu memang menghebohkan. Kontainer datang dari jauh, Seattle yang merupakan negara terbesar di wilayah timur laut pasifik amerika serikat.
Seattle terletak di negara bagian Wahington dengan jumlah penduduk sekitar 724.745 jiwa. Kota ini juga dijuluki sebagai kota hujan.
Hal yang mengejutkan bukan karena Seattle adalah salah satu kota besar, tapi bagaimana bisa kota yang jaraknya sangat jauh itu bisa mengirim sampah ke Indonesia?
[irp posts="4920" name="Karena Sampah, Filipina Menarik Duta Besarnya di Kanada"]
Sampah memang menjadi masalah yang mencemaskan, khususnya bagi negara-negara maju seperti Amerika. Sayangnya “barangkali” banyak dari negara tersebut tak tahu cara mengelolahnya sehingga menjadikan negara lain sebagai “tempat sampah”
Hal mencengangkan seperti yang diberitakan IDNTimes.com, kiriman kontainer berisi sampah dari Amerika Serikat ternyata bukan kejadian pertama.
Kontainer berisi sampah juga pernah ditemukan di Batam, Kepulauan Riau. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 65 kontainer! Kontainer berisi sampah ini ditemukan di Pelabuhan Bongkar Muat Batu Ampar, Batam.
Setelah ditelusuri, kontainer berisi sampah ini milik empat perusahaan dan datang secara bertahap sejak awal Mei 2019 lalu. Bedanya, kontainer berisi sampah ini belum dikirimkan balik ke negara asalnya karena baru akan dilakukan upaya investigasi.
Negara yang dijadikan “tempat sampah” oleh negara lain bBukan hanya Indonesia yang mendapat, tetapi juga negara.
[irp posts="2583" name="2030 Taiwan Bebas dari Sampah Plastik, Indonesia Kapan Ya?"]
Filipina juga pernah mendapat kiriman 69 kontainer berisi sampah dari Kanada. Sampah seberat 2.400 ton itu dianggap ilegal dan telah dikirimkan ulang ke negara asalnya.
Bahkan dikabarkan, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte berang dan mengancam hubungan diplomatik dengan Kanada.
Hal serupa pun pernah dialami Malaysia. Jumlahnya pun lebih banyak, yakni 3.000 metrik ton sampah plastik dari beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Begitu pula dengan China yang memutuskan untuk tidak lagi menerima sampah kiriman dari negara-negara maju.