Kembang Hujan

Hujan sore ini berbeda. Lebih menderas. Lebih mengiris. Sangat menguras air mata. Lihai membasahi ingatan. Sejujurnya aku tak pernah membenci hujan. Namun, sejak Jumat pagi di penghujung November l...

Kembang Hujan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Hujan sore ini berbeda. Lebih menderas. Lebih mengiris. Sangat menguras air mata. Lihai membasahi ingatan. Sejujurnya aku tak pernah membenci hujan.

Namun, sejak Jumat pagi di penghujung November lalu. Aku melihat hujan jauh berbeda dari sebelumnya. Lebih buram. Seburam masa nanti yang menantiku.

Setiap Jumat pagi, sejak satu tahun empat bulan terakhir ini adalah hari yang paling mendebarkan bagiku. Paling kunanti di antara semua hari. Aku merasa terlahir utuh sebagai perempuan di Jumat pagi. Padahal tak ada yang berubah pada diriku secara fisik.  Aku tak memindahkan garis alisku, tak menjadi lebih glowing.

Namun, debaran rindu dan bahagia mengantarku ke puncak utuh sebagai perempuan. Banyak yang bilang, untuk menjadi perempuan seutuhnya, kamu harus menjadi ibu--harus merasakan mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Aku tak perlu melewati semua itu untuk menjadi perempuan paripurna. Atau mungkin karena aku belum mengalami yang jadi anggapan banyak orang itu. Bagiku untuk menjadi perempuan seutuhnya adalah dengan bahagia. Dan setiap Jumat pagi aku akan bahagia. Sangat bahagia tepatnya.

“Cie ada yang menunggu kabar nih,” goda Flora, adik perempuanku yang sekilas seumuran denganku. Kami hanya berbeda satu setengah tahun.

Biasanya, jam enam pagi tanpa kurang dan lebih, telepon dari Essa akan menyambangi gawaiku. Tapi, ini sudah jam tujuh lewat tujuh belas menit. Gawaiku masih didekap sunyi. Sesering apa pun aku mengeceknya, mengubah pengaturannya ke mode pesawat lalu menekannya kembali agar jaringannya bisa stabil.

“Mungkin masih tidur, semalam Kak Essa pasti capek jalan keluar dari hutan,” tambah Flora sedikit menghiburku.

“Tak biasanya Essa bangun telat,” kataku.

Selama satu tahun empat bulan tujuh belas hari menjalin hubungan jarak jauh dengannya. Itu pertama kalinya Essa telat mengabariku di hari Jumat pagi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2