Kembali ke Desa, Bukanlah Efek Disrupsi Semata
Klikhijau.com - Saya nyaris bisa mendengar irama liukan batang bambu dan desis dedaunan yang diterpa hembusan angin. Saya larut dalam kungkungan pesona hutan bambu Desa Toddopulia. Saya terjebak da...
Klikhijau.com - Saya nyaris bisa mendengar irama liukan batang bambu dan desis dedaunan yang diterpa hembusan angin. Saya larut dalam kungkungan pesona hutan bambu Desa Toddopulia.
Saya terjebak dalam suasana desa dan meresapi sunyi yang merata. Tatapan mata yang panjang tersingkap keramahan jejeran sawah terhampar merata.
Kini masyarakat Desa Toddopulia menatap bambu dengan wajah ceria. Tak lagi melihatnya sebagai penopang bangunan semata. Tak ada lagi alasan ketidakmampuan mengolah bambu. Tidak tampak lagi pandangan yang meratapi kesunyian waktu bertani.
Kebun bambu akan selalu dipelihara untuk bertumbuh. Tidak sekadar merasakan kesejukan di bawah sinar matahari. Tapi juga menghadirkan olahan bambu dalam berbagai ornamen. Tentu saja dalam plan keterpilihan dan menjaga keseimbangan bumi.
[irp]
Wahyuddin Junus, yang sedang mengawal dan merawat spirit di Kampoeng Bambu Toddopulia -Foto/Ist[/caption]
Dua sisi kebangkitan budaya ini saya pikir, akan berkontribusi signifikan terhadap kemajuan desa. Maju tanpa harus meminggirkan tradisi lokal, sambil merawat tradisi tanpa harus ketinggalan zaman.
Desa Toddopulia, akan memiliki torehan baru. Pilihan destinasi baru saat berkunjung di Kabupaten Maros. Keberadaan Kampoeng Bambu Toddopulia menambah daftar panjang sejarah yang pernah ada di Desa Toddopulia.
Catatan sejarah Desa Toddopulia ini, tak harus membatasi jelajah ruang dan waktu. Karena di sini ada spirit dan rasa yang mau berubah. Upaya mengawal dan merawat spirit.
Jejak perjalanan mungkin saja menghabiskan puluhan gelas kopi yang tandas di ujung senja. Namun keindahan tetap menampilkan rasa yang tertinggal di Kampoeng Bambu Toddopulia.
Ayo kembali ke desa!
[irp]