Kelam di Balik Keindahan: Puspa dan Satwa dalam Ancaman Deforestasi

Klikhijau.com- Setiap tanggal 5 November, ada detik-detik khusus di Indonesia yang dipersembahkan untuk mengenang para puspa dan satwa, flora dan fauna yang tak hanya memperindah tanah air ini, tetapi...

Kelam di Balik Keindahan: Puspa dan Satwa dalam Ancaman Deforestasi
Bacakan Artikel

Keberadaan flora dan fauna ini tak hanya memperkaya ekosistem, tetapi juga berkontribusi pada sistem ekologi global, seperti penyerapan karbon dan penyediaan oksigen, yang membantu menjaga iklim bumi tetap stabil (FAO, 2020).

Namun, data menunjukkan bahwa setidaknya 25% spesies mamalia dan burung di Indonesia terancam punah akibat perusakan habitat, seperti pembukaan lahan besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan (UNEP, 2021). Dari harimau Sumatra hingga orangutan Kalimantan, nasib mereka kian hari semakin terdesak karena hutan yang menjadi rumah mereka hilang secara drastis.

[irp]

Kehilangan puspa dan satwa bukan hanya berarti hilangnya spesies tertentu dari muka bumi, tetapi juga mengganggu rantai makanan yang mempengaruhi stabilitas ekosistem.

Satwa-satwa besar seperti harimau dan gajah, misalnya, adalah karnivora dan herbivora yang berada di puncak rantai makanan. Kehadiran mereka berperan dalam mengendalikan populasi satwa kecil yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan jika berkembang tanpa kendali (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2023).

Banyak puspa di Indonesia juga memiliki peran yang unik. Rafflesia arnoldii, bunga terbesar di dunia, bukan hanya menjadi simbol keindahan alam tetapi juga indikator kesehatan hutan karena hanya dapat tumbuh di lingkungan yang masih asli.

Tanpa hutan, flora endemik seperti Rafflesia tidak memiliki tempat untuk hidup, dan ini juga akan mempengaruhi berbagai spesies yang hidup bergantung pada puspa tersebut untuk bertahan.

Ancaman Deforestasi: Bayangan Kelam di Balik Keindahan Alam

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: