Kedaulatan Pangan dari Pekarangan, Gerakan Agroekologi Perempuan Salassae

Kedaulatan Pangan dari Pekarangan, Gerakan Agroekologi Perempuan Salassae
Peserta Workshop Penguatan Agroekologi sebagai Solusi Perlindungan Hutan dan Pangan Perempuan di Sulawesi, - Foto: Kemitraan Agroekologi
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Sistem pangan modern kerap menempatkan tanah dan hutan semata sebagai komoditas ekstraktif yang diukur dari produktivitas kuantitatif dan nilai pasar jangka pendek. Logika ekstensifikasi ini tidak hanya meminggirkan keanekaragaman hayati, tetapi juga mengikis kedaulatan komunitas lokal yang telah berabad-abad mengelola alam secara berkelanjutan. 

Di tengah gempuran ketergantungan pada pupuk kimia dan benih hibrida industri, terdapat ketimpangan relasi kuasa yang nyata, perempuan mengemban beban terbesar dalam menyediakan makanan untuk keluarga dan merawat tanah, namun hak suara mereka kerap dibungkam dalam forum-forum penentuan kebijakan agrarian.

Ketiadaan akses terhadap pengambilan keputusan menjadikan krisis lingkungan sebagai beban yang tidak proporsional bagi kaum perempuan di pedesaan.

Kemelut ekologis dan sosial tersebut menjadi ruang kontemplasi bersama saat puluhan warga berkumpul di Balai Pendidikan Komunitas Salassae (KSPS), Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba.

Bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia, kegiatan bertajuk Workshop Penguatan Agroekologi sebagai Solusi Perlindungan Hutan dan Pangan Perempuan di Sulawesi diselenggarakan oleh gabungan organisasi sipil seperti Dana Mitra Tani, Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS), Kemitraan Agroekologi, dan WALHI Sulawesi Selatan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan