Jutaan Hektare Hutan Hilang Sejak 1990, Bagaimana dengan Hutan Primer Indonesia?

Klikhijau.com - Dalam laporan The State of the World’s Forests (SOFO); Forests, Biodiversity, and People yang dirilis 22 Mei 2020 bersamaan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional m...

Jutaan Hektare Hutan Hilang Sejak 1990, Bagaimana dengan Hutan Primer Indonesia?
Bacakan Artikel

Populasi mamalia, amfibi, reptil dan burung di hutan dalam periode 1970 hingga 2014 telah berkurang 53% dengan angka penurunan sebesar 1,7% per tahun. Angka ini bersumber dari hasil monitoring 455 populasi hewan di hutan, yang terdiri dari 268 populasi mamalia, bersama dengan populasi amfibi, reptil dan burung. Temuan ini menggarisbawahi risiko kepunahan spesies pada masa datang.

Pun, target keanekaragaman hayati Aichi untuk melindungi 17% daratan di bumi telah tercapai di 2020. Jumlah wilayah lindung telah mencapai 18% wilayah hutan dunia, dengan luas mencapai 700 juta hektar.

Namun keberadaan wilayah lindung saja tidak cukup. Masih diperlukan kerja sama internasional untuk merestorasi dan memulihkan ekosistem, mengatasi perubahan iklim dan melindungi keanekaragaman hayati.

Kondisi Hutan Primer Indonesia

Global Forest Watch (2020) menunjukkan data terbaru bahwa pada tahun 2019, setiap enam detik hutan tropis seluas lapangan sepak bola digunduli. Berdasarkan data tersebut, kehilangan tutupan hutan primer Indonesia terus menurun meskipun masih menempati urutan ketiga dunia setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo.

University of Maryland menghitung, dari total 3,8 juta hektare hutan primer yang hilang, Indonesia menyumbangkan sekitar 324.000 hektare atau turun sekitar 5% dibanding tahun 2018. Angka kehilangan ini sedikit lebih rendah dari angka deforestasi bruto yang dirilis oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan seluas 462.400 hektare.

Berdasarkan laporan pada surat kabar Kompas tertanggal 3 Juni 2020 yang bertajuk Kehilangan Hutan Primer Indonesia Nomor Tiga Dunia, angka kehilangan hutan tutupan hutan primer ini mengejutkan sejumlah pihak. Pasalnya, pada 2019 silam, telah terjadi kebakaran yang menganguskan hutan dan lahan Indonesia seluas 1,6 juta hektare.

Arif Wijaya Senior Manajer Hutan dan Iklim World Resources Institue Indonesia, dalam wawancara dengan Kompas, mengatakan bahwa kebakaran yang terjadi 2019 silam diduga tak memberikan dampak pengurangan luas tutupan hutan primer yang signifikan.

Asumsi itu berdasarkan data KLHK yang menunjukkan bahwa kebakaran seluas 1 juta  dari 1,6 juta berada di luar hutan. Kebakaran di hutan bisa saja terjadi di area konflik, terdegradasi, bukan hutan alam primer yang masih baik.

Alasan teknikal lain, karena kebakaran ini terjadi pada bulan September-Oktober 2019 yang membikin satelit tak bisa menangkap citra di wilayah kebakaran karena terhalang kabut asap. Bila dugaan benar, kehilangan hutan karena kebakaran ini bisa ditangkap satelit pada awal tahun 2020.

Berdasarkan paparan data di atas, baik skala global maupun nasional, seyogianya kita tak terlena dengan penurunan hilangnya tutupan hutan primer di Indonesia. Dunia harus tetap mengupayakan agar tutupan hutan primer tak hilang dan dunia tak diambang kepunahan spesies.

Sejatinya, adanya krisis pandemi COVID-19 ini, salah satu hal yang kembali menyadarkan dunia atas pentingnya upaya melindungi hutan. Juga pentingnya menekan laju deforestasi dan mengelolanya secara berkelanjutan. Sebab, kesehatan masyarakat sangat bergantung pada kesehatan ekosistem di bumi.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2