Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Juli Tak Mengirim Penanda

kita lupa pernah berbalas puisi di bulan Juli kau katakan aku hijau kukatakan kau hujan lalu kita menuju halaman rumah ..…..menunggu hujan….. aku tak membawa payung kau tak memakai jaket angin...

Oleh Idris Makkatutu 29 Sep 2019 11:19 2 menit baca
kita lupa pernah berbalas puisi di bulan Juli kau katakan aku hijau kukatakan kau hujan lalu kita menuju halaman rumah ..…..menunggu hujan….. aku tak membawa payung kau tak memakai jaket angin berhembus kencang penanda hujan akan datang daun-daun terbang di sekeliling kita mencari pendaratan paling aman beberapa daun tak sampai ke tanah ada yang tertinggal di reranting pohon matamu liar di bulan Juli menatap kali di depan rumah kau mencari reranting yang dibawa hujan. hanyut di kali itu. aku selalu menyukai aroma tubuhmu jika kuyup aku juga suka melihat tetets hujan dari rambutmu membasahi baju birumu yang bergambar bulu mata. kau hujan aku hijau barangkali kita memang ditakdirkan saling melengkapi namun usia ternyata berbicara lain hujan pergi gugur pun berserakan kini Juli datang dengan wajah muram Juli tak temukan kita di halaman menunggu hujan Juli tak menemukan hujan merembes ke tanah di halaman dan kali di depan rumah itu telah di semen oleh ayahku airnya keruh reranting pohon tak lagi bisa hanyut di kali itu …….jika kau tahu, kau akan menangis….. ….…aku berkali-kali menangis. berubah hujan air mataku. aku lupa bertanya kapan kau pulang? membawa payung? membawa jaket? lalu kita berbalas puisi ini Juli kesekian tiadamu kau hujan aku hijau tapi halaman rumah mulai tandus tak ada lagi pepohonan mengirim daun keringnya aku hijau kau hujan atau barangkali tak lagi begitu …….kita lihat saja hingga Juli tak mengirim penanda…..
Topik terkait
#kampanye lingkungan #puisi lingkungan #sastra ekologi #peran sastra #peran puisi