Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Jarang Tersorot , Ternyata Cacing Tanah “Penghasil” Makanan bagi Dunia

Klikhijau.com –  Lupakan sejenak tentang sinar matahari, hujan, benih, tenaga kerja atau semua hal yang mendukung dunia pertanian untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah. Jika panen melimpah, y...

Oleh Tim Redaksi 01 Jul 2026 13:02 4 menit baca
Klikhijau.com –  Lupakan sejenak tentang sinar matahari, hujan, benih, tenaga kerja atau semua hal yang mendukung dunia pertanian untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah. Jika panen melimpah, yang kerap disanjung adalah sesuatu yang tampak dipermukaan. Termasuk jenis pupuk yang digunakan atau bahkan timing penanaman dan panen. Kita kerap melupakan sesuatu yang berjasa, tapi tetap silent. Cobalah menyelam ke dalam tanah. Di sana ada makhluk yang banyak orang jijik saat menyentuhnya. Kehadiran makhluk lunak itu lebih banyak diabaikan darpada mendapatkan atensi. Ia adalah cacing tanah. Cacing tanah adalah insinyur lunak, ia bekerja dalam senyap. Tidak butuh pencitraan dan tepukan tangan. Namun,  sebuah studi dari Colorado State University akan membuat pandangan kita terhadapnya berubah arah. [irp] Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications itu mengungkapkan jika cacing tanah menyumbang sebagian besar biji-bijian dan kacang-kacangan yang memberi makan dunia ini. Bisa dibayangkan perkiraan para peneliti, angka untuk biji-bijian serealia sekitar 6,5 persen dari produksi global dan semua itu ada “campur tangan” hewan tanah.  Meski para belum ada yang menetapkan angka untuk kontribusi satu hewan tanah terhadap pasokan makanan. Bukan hanya bebijian, tetapi peran cacing tanah juga melintas ke tanaman polong-polongan Cacing tanah menyumbang sekitar 2,3 persen dari produksi polong-polongan global. Memang  porsinya lebih kecil daripada angka biji-bijian. Penyebabnya karena tanaman polong-polongan seperti kedelai, lentil, dan semanggi memiliki bakteri yang menarik nitrogen dari udara, sehingga mereka kurang bergantung pada nitrogen yang dilepaskan oleh cacing saat menguraikan bahan organik. Tanaman serealia tidak memiliki kemitraan tersebut, itulah sebabnya mereka lebih banyak mendapatkan manfaat dari pergerakan cacing di dalam tanah. [irp] Dr. Steven Fonte dan rekan-rekannya menyusun perkiraan tersebut dengan menggabungkan tiga lapisan data global. Mereka menumpuk peta kelimpahan cacing tanah, tekstur dan pH tanah, tingkat aplikasi pupuk, dan hasil panen, kemudian mencocokkan setiap lokasi dengan eksperimen selama beberapa dekade yang mengukur bagaimana cacing mengubah pertumbuhan tanaman. Dari 58 studi dan 462 titik data, keberadaan cacing tanah meningkatkan biomassa tanaman di atas permukaan tanah rata-rata sebesar 23,3 persen. Penerapan efek tersebut di seluruh lahan pertanian di planet ini menghasilkan angka-angka utama tersebut. Tim tersebut menerjemahkan persentase menjadi tonase. Cacing tanah mendukung produksi lebih dari 140 juta metrik ton biji-bijian dan kacang-kacangan setiap tahunnya, jumlah yang cukup besar untuk tercatat dalam statistik pangan negara mana pun.
Tidak membuat panen merata
Meski cacing tanah memiliki peran penting. Namun, cacing tanah tidak serta merta meningkatkan hasil panen setiap tanaman secara merata. Mereka mengisi celah spesifik dalam komposisi kimia tanah, dan besarnya kontribusi mereka mencerminkan seberapa besar kebutuhan tanaman akan bantuan tersebut. [irp] Ada temuan regional yang menarik di belahan bumi selatan. Di sana cacing tanah menyumbang sekitar 10 persen dari produksi biji-bijian di Afrika Sub-Sahara dan sekitar 8 persen di Amerika Latin dan Karibia, jauh di atas rata-rata global. Penjelasannya terletak pada tanah dan faktor ekonomi. Daerah-daerah ini cenderung memiliki pH tanah yang lebih rendah dan kandungan lempung yang lebih tinggi, kondisi yang memperbesar manfaat yang diberikan cacing. Petani di sana juga menggunakan lebih sedikit pupuk sintetis, sehingga siklus nutrisi alami yang didorong oleh cacing memikul beban yang lebih besar. Hal ini menciptakan paradoks ketika kita melihat tonase mentah. Eropa dan Asia Timur serta Tenggara masing-masing memperoleh lebih dari 40 juta metrik ton biji-bijian dari aktivitas cacing tanah, jauh lebih banyak dalam nilai absolut daripada negara-negara Selatan, karena wilayah-wilayah tersebut mengolah lahan yang luas dengan hasil panen yang tinggi. [irp] Temuan ini memunculkan godaan yang jelas, dan para penulis mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya. Mereka tidak merekomendasikan memindahkan cacing tanah ke tempat-tempat di mana hewan-hewan tersebut belum hidup. Cacing yang diperkenalkan dapat merusak ekosistem yang berevolusi tanpa mereka, dengan mengikis serasah daun yang menjadi sumber makanan bagi tumbuhan dan serangga asli. Tujuannya adalah untuk mendukung cacing yang sudah bekerja, bukan untuk mengirimkannya melintasi perbatasan. Sebaliknya, tim tersebut menunjuk pada metode pertanian yang memungkinkan kehidupan tanah yang ada untuk berkembang. Pengurangan pengolahan tanah dan pengembalian pupuk kandang serta sisa tanaman memberi makan populasi cacing, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil panen sekaligus mengurangi permintaan akan bahan kimia pertanian. [irp] Sumber: Earth
Topik terkait
#makanan #cacing tanah #dunia pertanian #jenis pupuk organik #hasil panen #merusak ekosistem