Ilmuan Indonesia Duduki Posisi Penting di IPCC: Harapkan Aksi Iklim Lebih Cepat

Klikhijau.com – Dua dari tiga puluh empat ilmuwan dunia yang tergabung dalam Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) atau Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim pada assessment report ke-7,...

Ilmuan Indonesia Duduki Posisi Penting di IPCC: Harapkan Aksi Iklim Lebih Cepat
Bacakan Artikel

Ia juga akan melakukan penelitian di bidang urban climate yang berkaitan dengan polusi udara yang berpengaruh pada kesehatan manusia.

Dirinya berharap kebijakan mitigasi perubahan iklim harus lebih kuat. Ini karena berdasarkan kalkulasi IPCC, secara periodik dari tahun 2018, pencapaian kenaikan suhu 1.5 derajat diperkirakan bisa terjadi tahun 2052.

Tetapi ketika dilakukan proyeksi kembali tiga tahun kemudian atau di tahun 2021, perkiraannya semakin memburuk, yakni ditaksir kenaikan suhu 1.5 akan terjadi pada 2042. Bahkan, temuan terakhir pada tahun ini, kenaikan suhu 1.5 derajat justru akan dicapai tahun 2030.

Sepakat dengan Edvin, Dr. Joni Jupesta, ilmuwan, dosen dan peneliti aktif di The United Nations University (UNU) Tokyo, Jepang yang juga terpilih menjadi anggota TFI di IPCC, setuju bahwa bahwa mitigasi perubahan iklim perlu dilakukan lebih agresif lagi. Ke depannya, gugus tugas ini akan melakukan harmonisasi data antarnegara.

“Karena situasi sekarang semakin berat, IPCC nanti akan membuat metodologi yang dapat digunakan negara-negara dalam melakukan perhitungan gas rumah kaca dan melakukan tabulasi statistik serta pengumpulan data. Dengan demikian, akan tercipta harmonisasi data antarnegara berkembang, negara maju, seperti Indonesia, Brazil, Rusia dan China,” jelas Joni.

Terpilihnya ilmuwan Indonesia di IPCC tidak terlepas dari dukungan dari negara-negara Asia Pasifik Barat, yaitu negara-negara small islands, seperti Kepulauan Samoa, Fiji, Tuvalu, Solomon, Tonga. Mereka adalah negara yang sangat rentan terdampak iklim, sehingga kepentingan negara-negara tersebut dalam berbagai komitmen internasional seperti COP perlu diakomodir.

Terkait penyelenggaraan KTT iklim COP 28 di Dubai tahun ini, Joni berharap terdapat komitmen dari negara maju dalam melakukan pendanaan terhadap kerusakan (lost) dan kehancuran (damage). Ini sebagai tindak lanjut dari COP 27 di Mesir tahun lalu untuk melindungi negara-negara rentan dari ancaman perubahan iklim.

“Komitmen pada COP tahun ini seharusnya bisa lebih ambisius lagi. Sekarang, seluruh Eropa dan negara-negara tertentu sedang mengalami gelombang panas, bahkan hingga 50 derajat Celcius. Indonesia juga harus pastikan tidak ada kebakaran hutan di pada Agustus hingga September tahun ini, sebelum memasuki musim hujan. Isu terkait pemanasan global semakin menguat, sehingga kita harus sama-sama mengawal agar kebakaran hutan bisa dihindari. Indonesia harus bisa memainkan peranan penting untuk turut serta menangani krisis iklim,” pungkasnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2