Hasil Riset Tunjukkan Mangrove Berhasil Dongkrak Bobot Panen Udang di Sulsel

Klikhijau.com - Terobosan besar bagi masa depan pesisir Indonesia tengah tumbuh dari hamparan tambak di Sulawesi Selatan. Kolaborasi riset internasional antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)...

Hasil Riset Tunjukkan Mangrove Berhasil Dongkrak Bobot Panen Udang di Sulsel
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Terobosan besar bagi masa depan pesisir Indonesia tengah tumbuh dari hamparan tambak di Sulawesi Selatan. Kolaborasi riset internasional antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan mitra strategis dari Jepang berhasil membuktikan bahwa kelestarian ekologi dan kesejahteraan ekonomi tidak harus saling mengorbankan.

Melalui pengembangan sistem silvo-aquaculture berbasis mangrove, proyek percontohan (pilot activity) ini menyuguhkan kabar baik yang sangat menjanjikan bagi upaya penguatan ketahanan pangan sekaligus pemulihan ekosistem pesisir yang kian rentan diterpa krisis iklim.

Langkah inovatif ini seolah mendobrak dogma lama yang menganggap pembukaan tambak harus selalu diiringi dengan pembabatan hutan mangrove. Melalui silvo-aquaculture atau yang akrab dikenal sebagai tambak tumpang sari, pohon-pohon mangrove justru ditanam berdampingan dan terintegrasi langsung di dalam area budidaya perikanan.

Hasil pemantauan di lapangan tim BRIN menunjukkan indikator yang luar biasa, udang yang dibudidayakan di dalam ekosistem tambak bermangrove memperlihatkan laju pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dan sehat jika dibandingkan dengan komoditas serupa di tambak-tambak konvensional yang gersang tanpa pepohonan.

Data konkret mengenai keberhasilan ini dipaparkan secara gamblang oleh Hiroshi Imae, seorang konsultan andal dari JIN Corporation Jepang. Dalam pemaparannya, Hiroshi mengungkapkan hasil evaluasi mendalam pada akhir masa pemeliharaan udang yang berlangsung selama 98 hari.

Angka yang dihasilkan sangat kontras dan mencengangkan. Berat rata-rata udang yang dipanen dari tambak terintegrasi mangrove mampu menyentuh angka 25,85 gram per ekor.

Sementara itu, pada tambak konvensional tanpa sentuhan mangrove, berat rata-rata udang hanya mentok di angka 14,62 gram per ekor. Selisih pertumbuhan yang hampir mencapai dua kali lipat ini menjadi bukti empiris yang tidak terbantahkan bahwa keberadaan mangrove memberikan stimulan masif bagi produktivitas perikanan.

Menurut Hiroshi, capaian impresif tersebut menegaskan bahwa integrasi yang harmonis antara vegetasi mangrove dan budidaya perikanan berpotensi melahirkan keuntungan ganda (double-win solution). Di satu sisi, lingkungan pesisir mendapatkan benteng alami dari abrasi dan degradasi mutu air, sedangkan di sisi lain, para petambak memperoleh lonjakan hasil panen yang signifikan.

Pendekatan berkelanjutan seperti inilah yang dinilai dapat menjadi salah satu pilar solusi paling konkret untuk memperkuat ketahanan pangan komunitast lokal di wilayah pesisir, yang selama ini menjadi kelompok paling rentan terdampak perubahan lingkungan global.

Secara ilmiah, Hiroshi menguraikan bagaimana mekanismenya bekerja dalam ruang lingkup ekosistem tambak. Silvo-aquaculture pada dasarnya adalah seni menyatukan fungsi konservasi dengan pemanfaatan ekonomi secara bijaksana. Di dalam sistem ini, akar-akar mangrove tidak sekadar berfungsi sebagai penahan tanah atau penyaring polutan, tetapi melakoni peran vital sebagai penyedia habitat alami bagi beraneka ragam organisme mikro.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2