Ekonomi Sirkular, Manfaat dan 3 Jalan Mewujudkannya

Klikhijau.com – Penerapan ekonomi sirkular pada 5 sektor industri berpotensi menghasilkan tambahan PDB secara keseluruhan pada kisaran Rp593 triliun sampai dengan Rp642 triliun. Demikian sebuah lapora...

Ekonomi Sirkular, Manfaat dan 3 Jalan Mewujudkannya
Bacakan Artikel

Resesi 2008 menunjukkan bahwa penurunan konsumsi tidak akan bertahan lama jika tidak ada upaya bersama menuju perubahan jangka panjang.

Problemnya tak hanya soal tren konsumen membeli terlalu banyak sementara upaya daur ulang masih terbatas. Paradigma ekonomi global saat ini juga masih memakai model “take-make-waste” dimana sumber daya alam diambil, digunakan dan berakhir sebagai sampah.

Ini adalah model yang tentu tak efisien dan juga berbahaya bagi bumi. Memperburuk krisis iklim dan menghabiskan sumber daya cukup besar.

Manfaat ekonomi sirkuler

Tak ada jalan lain, kita perlu mengubah paradigma dan mendorong model membangun ekonomi sirkular. Model ini membuka peluang bagi para pelaku ekonomi untuk mengurangi konsumsi bahan, produksi limbah, dan emisi sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Model tersebut sudah berhasil diterapkan pada beberapa negara, termasuk Denmark.

Implementasi ekonomi sirkuler akan membantu upaya pelestarian lingkungan dan mitigasi krisis iklim.

Ini bukan hanya masalah lingkungan. Menggunakan sumber daya yang sulit didapat dengan lebih baik dengan menggunakan sistem untuk menghindari sampah dan memperpanjang waktu pakai material jauh lebih menguntungkan secara sosial dan ekonomi.

Bayangkan saja, satu ton telpon genggam yang dibuang mengandung emas yang setara dengan 100 kali lipat dari satu ton bijih emas. Dengan mengurangi seperempat pembuangan makanan dan sampah saja, kita sejatinya dapat memberi makan pada 870 juta orang.

Menurut riset, implementasi ekonomi sirkuler dapat menghasilkan peluang ekonomi sebesar $4,5 triliun melalui pengurangan sampah, di samping penciptaan peluang usaha dan lapangan kerja.

Oleh sebab itu,  sudah saatnya kita memutus rantai antara pertumbuhan ekonomi dan penggunaan sumber daya alam karena akan mengancam sumber daya di masa datang.

3 Cara Transisi Menuju Ekonomi Sirkuler

Kita perlu melakukan langkah-langkah penting dalam pola konsumsi demi memasuki era transisi ekonomi sirkuler, dengan hal berikut:


  1. Mengurangi konsumsi



Tren konsumsi di dunia sangat timpang. Negara-negara kaya di dunia menghabiskan 10 kali lipat tingkat konsumsi dibanding negara-negara miskin. Ini berarti ada negara-negara yang berlebihan dan boros konsumsi, sementara kelaparan dan kemiskinan terjadi di negara lain.

Padahal, di abad 20, penggunaan bahan baku dunia meningkat tajam mencapai dua kali lipat dari pertumbuhan populasi. Karenanya, concern ekonomi sirkular adalah bagaimana mendorong penggunaan sumber daya alam dengan lebih baik dan lebih bijak.

Diperlukan suatu inovasi bisnis, dukungan kebijakan dan dorongan dari konsumen. Kuncinya ada pada bagaimana mengubah perilaku konsumsi khususnya di sektor fast fashion, plastik dan sampah makanan.

Kebijakan sejumlah negara untuk membuat regulasi pelarangan penggunaan kantong plastik tentu sangat positif ke depan bila ini dijalankan secara konsisten.



  1. Cara konsumsi yang lebih baik



Selain mengurangi konsumsi, ekonomi sirkuler juga mencakup perihal cara konsumsi yang lebih bijak. Pertama, dengan memilih produk-produk yang berkelanjutan atau dapat didaur ulang. Kedua, dengan mengganti apa yang kita konsumsi, seperti beralih ke pola makan nabati yang berdampak positif terhadap emisi dan sumber daya alam lainnya ketimbang daging.

Menariknya, tren kesadaran konsumen saat ini mengalami peningkatan secara global. Semakin banyak orang yang berharap agar produsen lebih bijak dalam kegiatannya. Tekanan dari konsumen berperan besar dalam mendorong bisnis mengubah cara produksi mereka dan mendorong pemerintah untuk mengeluarkan suatu policy yang mendukung.



  1. Menciptakan perubahan sistemik



Sejatinya, konsumen tidak punya kemampuan besar mengatasi pola konsumsi bila sistem ekonomi kita masih memakai model take-make-waste. Maka yang diperlukan saat ini adalah perubahan sistemik sehingga keberlanjutan tidak hanya bergantung pada pilihan konsumen.

Ekonomi sirkuler didasari oleh prinsip bahwa produk seharusnya dirancang lebih tahan lama dengan memakai komponen atau material yang dapat digunakan kembali.

Diperlukan pula semacam pemberian insentif bagi penciptaan sistem sirkuler. Penting untuk mensyaratkan penggunaan bahan sekunder atau bahan daur ulang, seperti pengenaan pajak atas produk yang menggunaan bahan yang belum pernah dipakai sama sekali. Inggris sudah melakukannya dengan memperkenalkan pajak untuk kemasan plastik dengan kandungan bahan daur ulang kurang dari 30 persen.

Kita juga bisa belajar dari apa yang dilakukan di Republik Korea. Di Korea, 95 persen sampah sudah berhasil didaur ulang menjadi pupuk kompos, pakan hewan, biogas atau bahan bakar solid karena diberlakukannya program daur ulang sampah makanan wajib dan pelarangan sampah makanan di tempat pembuangan sampah.

Ini satu ikhtiar global yang dimulai dari setiap negara-negara di dunia dan diikuti dengan terbangunnya kesadaran konsumen terkait pentingnya pola konsumsi yang berkelanjutan.

Semoga bermanfaat!

Sumber: wri-indonesia.org, Bappenas dan klikhijau.com

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2