Ekonomi Sirkular, Manfaat dan 3 Jalan Mewujudkannya

Klikhijau.com – Penerapan ekonomi sirkular pada 5 sektor industri berpotensi menghasilkan tambahan PDB secara keseluruhan pada kisaran Rp593 triliun sampai dengan Rp642 triliun. Demikian sebuah lapora...

Ekonomi Sirkular, Manfaat dan 3 Jalan Mewujudkannya
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Penerapan ekonomi sirkular pada 5 sektor industri berpotensi menghasilkan tambahan PDB secara keseluruhan pada kisaran Rp593 triliun sampai dengan Rp642 triliun. Demikian sebuah laporan baru yang diluncurkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP), dan didukung Pemerintah Kerajaan Denmark, (26/01/2021).

Adapun 5 sektor utama tersebut antara lain industri makanan dan minuman, tekstil, perdagangan grosir dan eceran (dengan fokus pada kemasan plastik), konstruksi, dan elektronik. Hasil studi terbaru menunjukkan bahwa implementasi konsep ekonomi sirkular di 5 sektor tersebut dapat menciptakan sekitar 4,4 juta lapangan kerja baru hingga tahun 2030.

Hal ini menguatkan data bahwa model ekonomi sirkular bisa jadi solusi berkelanjutan bila diterapkan ke depan. Menurut Wikipedia, ekonomi sirkular adalah sebuah alternatif untuk ekonomi linier tradisional dimana kita menjaga agar sumber daya dapat dipakai selama mungkin, menggali nilai maksimum dari penggunaan, kemudian memulihkan dan meregenerasi produk dan bahan pada setiap akhir umur layanan.

Bagaimana bergerak menuju transisi ke era ekonomi sirkular?

Data sampah dan pola konsumsi

Pola konsumsi manusia setiap tahun meningkat dan menghasilkan sampah dengan jumlah yang begitu mencemaskan. Ada sekira 300 juta ton plastik di tahun 2019, jumlah ini bila dikalkukasi hampir setara dengan berat populasi manusia.

Diperkirakan, pada tahun 2050 mendatang, lautan akan dikepung sampah plastik bahkan ilmuan memprediksi sampah plastik akan lebih banyak jumlahnya daripada ikan. Bisa dibayangkan bagaimana konsumsi manusia sekaligus akan terancam oleh mikroplastik.

Sementara, tren sampah elektronik juga meningkat tajam mencapai 50 juta ton dalam satu tahun. Belum lagi fenomena sampah makanan yang terbuang sekira sepertiga dari produksi makanan, padahal kelaparan mengintai di banyak tempat.

Perpurataran ekonomi global menghasilkan lebih dari 100 miliar ton sumber daya dan lebih dari separuhnya yakni sekira 60 persen menjelma jadi sampah atau emisi gas rumah kaca.

Bagaimana tren sampah di masa pandemi? Menurut data, konsumsi global tampaknya memang menurun drastis di masa pandemi covid-19, namun faktanya tidak sesederhana itu.

Tren penjualan pakaian memang jatuh, namun pembelian peralatan kantor untuk di rumah dan peralatan olahraga meningkat. Pengeluaran di industri rumah sakit turun, namun belanja bahan makanan meningkat. Penggunaan plastik sekali pakai meningkat jauh, sementara insentif ekonomi untuk daur ulang plastik berkurang drastis akibat harga minyak yang anjlok.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2