ECOTON Ajak Generasi Muda Selamatkan Mangrove Wonorejo dari Lilitan Sampah Plastik

Klikhijau.com - Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) bersama lebih dari 21 siswa-siswi SD–SMP homeschooling, tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), serta para relawan menggela...

ECOTON Ajak Generasi Muda Selamatkan Mangrove Wonorejo dari Lilitan Sampah Plastik
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) bersama lebih dari 21 siswa-siswi SD–SMP homeschooling, tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), serta para relawan menggelar kegiatan "Make Mangrove Green Again" di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, Minggu, 19 Juli 2026.

Kegiatan ini bertujuan menyelamatkan akar-akar mangrove dari lilitan sampah plastik sekaligus mengajak generasi muda belajar langsung mengenai pentingnya ekosistem mangrove bagi kehidupan pesisir.

Mangrove merupakan benteng alami pesisir yang berperan penting dalam melindungi garis pantai dari abrasi, menyerap karbon dalam jumlah besar, menyaring polutan, serta menjadi habitat, tempat berlindung, tempat pemijahan, dan tempat mencari makan bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, burung, hingga satwa lainnya.

Keberadaan mangrove sangat menentukan kesehatan ekosistem laut dan keberlanjutan sumber daya perikanan. “Mangrove adalah rumah bagi ikan, sehingga menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan di laut”.

Sayangnya, banyak akar mangrove yang terlilit sampah plastik. Selain menghambat pertumbuhan akar, sampah plastik juga dapat menutupi lentisel, yaitu pori-pori pada batang dan akar mangrove yang berfungsi sebagai jalur pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida) antara jaringan tumbuhan dengan udara.

Saat perjalanan menyusuri kawasan mangrove menggunakan perahu, Prigi Arisandi, Founder ECOTON menjelaskan kepada para peserta bahwa apabila lentisel tertutup atau terganggu oleh sampah plastik, proses respirasi mangrove akan terhambat sehingga memengaruhi pertumbuhan bahkan kelangsungan hidup pohon.

Ia juga menjelaskan bahwa sampah plastik yang terus terpapar sinar matahari, gelombang, dan gesekan di lingkungan pesisir akan terfragmentasi menjadi mikroplastik yang semakin sulit dibersihkan serta berpotensi mencemari ekosistem mangrove dan rantai makanan di laut.

Jangan sadikan sungai sebagai tempat sampah

Kegiatan diawali dengan perjalanan menggunakan perahu menyusuri muara dan kawasan mangrove. Selama perjalanan, peserta mendapatkan edukasi mengenai berbagai jenis tanaman mangrove, satwa yang hidup di dalamnya, fungsi ekologis mangrove sebagai pelindung pesisir dari abrasi, penyerap karbon (blue carbon), habitat berbagai biota laut, serta ancaman yang ditimbulkan oleh pencemaran sampah plastik terhadap ekosistem tersebut.

Setelah sesi edukasi, seluruh peserta melakukan aksi bersih pantai dan menyelamatkan akar-akar mangrove yang masih hidup dari lilitan sampah plastik. Dalam waktu sekitar 30 menit, peserta berhasil mengumpulkan lebih dari 20 karung sampah berukuran 25 kilogram. Sampah yang paling banyak ditemukan berupa botol plastik sekali pakai, kantong kresek, kemasan sachet, sandal, sedotan, serta berbagai jenis sampah plastik lainnya yang terbawa arus sungai hingga bermuara di kawasan mangrove.

Abdullah, siswa kelas 2 SD, mengaku terkejut melihat banyaknya sampah yang menjerat akar mangrove.

“Tadi aku habis ambili sampah plastik yang melilit akar pohon. Banyak banget sampahnya dan sulit dilepaskan dari akar pohon manggrovenya. Sampah-sampah ini dari orang-orang yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Aku ada pesan buat orang-orang, kalau buang sampah harus di tempatnya dan kurangi pakai plastik sekali pakai karena sampahnya bisa mencemari pantai," ujar Abdullah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2