Dugong, Kini Tinggal Kenangan

Klikhijau.com – Secara fungsional dugong di perairan China dinyatakan punah. Berita kepunahan itu disiarkan sebuah studi baru yang diterbitkan di Royal Society Open Science. Dan tentu saja itu jadi ka...

Dugong, Kini Tinggal Kenangan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Secara fungsional dugong di perairan China dinyatakan punah. Berita kepunahan itu disiarkan sebuah studi baru yang diterbitkan di Royal Society Open Science. Dan tentu saja itu jadi kabar duka yang patut ditangisi.

Dugong memang dianggap rentan oleh Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).  Mamalia laut ini  hidup di sepanjang pantai tropis dan subtropis di Samudra Hindia dan Pasifik, dari Afrika Timur hingga Jepang.

Selama ratusan tahun, jangkauan mereka termasuk perairan China selatan, menurut ZSL. Namun, penampakan yang dilaporkan di negara itu mulai menurun dengan cepat setelah tahun 1970-an.  Dewan Negara China mendaftarkan mereka sebagai Hewan yang Dilindungi Kunci Nasional Tingkat 1 pada tahun 1988.

Profesor Samuel Turvey dari Zoological Society of London (ZSL) mengatakan, kemungkinan hilangnya duyung di China adalah kerugian yang menghancurkan.

“Ketidakhadiran mereka tidak hanya akan berdampak pada fungsi ekosistem, tetapi juga berfungsi sebagai peringatan, yakni pengingat serius bahwa kepunahan dapat terjadi sebelum tindakan konservasi yang efektif dikembangkan,” ujar  Turvey yang merupakan rekan penulis studi.

Pemakan tumbuhan

Dugong, juga dikenal sebagai sapi laut, adalah satu-satunya mamalia laut yang hanya memakan tumbuhan. Mereka terkait dengan manatee India Barat (Trichchus manatus), yang telah berjuang melawan kelaparan di Florida.

Menurut MSN dugong dan tiga spesies manate semuanya termasuk dalam ordo mamalia laut yang dikenal sebagai Sirenia. Dugong dapat dibedakan dari ordo lainnya dengan sirip ekornya yang mirip lumba-lumba.

Untuk menilai status duyung saat ini di negara tersebut, ZSL dan Akademi Ilmu Pengetahuan China melakukan survei di 66 komunitas nelayan. Survei itu dilakukan di empat provinsi China yang berbatasan dengan Laut China Selatan.

Mereka juga melihat data historis, menurut surat kabar tersebut. Hanya lima persen dari 788 orang yang disurvei mengatakan kepada para peneliti. Mereka telah melihat duyung, dan penampakan rata-rata adalah 23 tahun yang lalu. Hanya tiga orang yang mengaku pernah melihat duyung dalam lima tahun terakhir.

Data historis sama-sama mengecewakan: tidak ada catatan hewan setelah tahun 2008. Tidak ada pula pengamatan lapangan yang dikonfirmasi setelah tahun 2000.

“Berdasarkan temuan ini, kami terpaksa menyimpulkan bahwa duyung telah mengalami keruntuhan populasi yang cepat selama beberapa dekade terakhir dan sekarang secara fungsional punah di China,” para penulis penelitian menyimpulkan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2