Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Dipeluki Sampah

Dipeluki Sampah   lagu-lagu terus mengalun di kepalamu sebagai gerimis. meminjam seluruh ingatan yang dirampas polusi udara pada sepatu bots yang memanjakan kakimu dari duri jabejabe. kau...

Oleh Idris Makkatutu 29 Sep 2024 14:12 2 menit baca

Dipeluki Sampah

  lagu-lagu terus mengalun di kepalamu sebagai gerimis. meminjam seluruh ingatan yang dirampas polusi udara pada sepatu bots yang memanjakan kakimu dari duri jabejabe. kau berjalan menuju sungai yang telah menghanyutkan seluruh masa depan dan juga sampah plastik tersisa kini hanya lagu dan polusi sebagai jembatan antara aku dan kamu dalam satu masa yang tak pernah satu aku selalu ingin berlari ke pelukmu, sebagaimana petani berlari ke sawahnya mengusir burung pipit, agar panci terisi nasi pada sungai yang menghanyutkan masa depan itu, kau bisa melepas sepatu botsmu, memeriksa kakimu yang dipeluki sampah. dan terus ingin berjalan ke arah ingatan pada jalan yang pernah kita lalui sebagai sepasang pabboeng, remuk gigil malam Sept, 2024 [irp]

Hujan yang Bukan Kamu

aku dan kamu adalah hujan yang berubah jadi kopi pahit. gigil datang melerai hangat tubuh. kau berjalan ke dapur, aku ke teras rumah. menghitung napas sendiri yang dicekik pasal-pasal aku selalu ingin kembali jadi anak-anak, berebutan payung saat hujan atau membiarkan tubuh kuyup sambil menunggu omelan ibu. dan kau, kau tak pernah ingin jadi apa pun selain jadi hujan. "aku bisa tumbuhkan apa saja dengan menjadi hujan," katamu. hujan kali ini datang, apakah itu kamu? datang menumbuhkan rindu yang tak pergi-pergi ini hujan terus menguyupkan, tapi bukan kamu yang datang. pohon-pohon, batu besar, reranting, anak anjing dan air berwarna cokelat menimbun kamarku Tandabaca, 23 Sept 2024 [irp]

Kabut dan Subuh

kita kita bertemu pada kabut pagi. lalu berbagi napas pada dingin subuh yang hujan kau memetik bunga kuning yang tumbuh di kepalaku. aku menyaksikan matamu jadi danau tawar. tempat ikan-ikan berenang mencari lumut semalam kau bercerita panjang sekali. aku mengikuti napasmu hingga lelap. kau menyukai kabut dan subuh yang dingin dan aku menyukai pelukmu 2024 [irp]

Mengering Ingatan

  malam menghuni matamu. seperti cafe yang buka dua puluh empat jam. tempat menjamu semua rindu dan wajah asing rindu adalah serangkaian perjalanan yang tak pernah berakhir pada pertemuan. rindu selalu mampu berubah wujud jadi musik tengah malam atau sampah plastik yang tak ingin terurai kau suka beperpergian dengan sampah di kepalamu, juga bekal seutas doa yang terikat dalam napasmu. aku suka mengucapkan aamiin untuk doa-doamu, di dalamnya ada namaku yang pernah kau keringkan dalam ingatanmu jadi kemarau panjang. meranggaskan pohon cengkeh 2024 [irp]
Topik terkait
#sampah plastik #puisi lingkungan #hujan #sastra dan lingkungan #puisi romantis