Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Di Suatu Hari yang Hujan

Hari ini kita tidak akan kemana mana hujan telah turun seharian di kota ini, seribu sayup suara suara kecil angin menyergap kebisuan, menyergap sunyi menyergap setiap tanya, lalu menjelma diam keda...

Oleh Redaksi 15 Feb 2019 22:12 2 menit baca
Hari ini kita tidak akan kemana mana hujan telah turun seharian di kota ini, seribu sayup suara suara kecil angin menyergap kebisuan, menyergap sunyi menyergap setiap tanya, lalu menjelma diam kedalam setiap ingatan yang menyimpan rahasia terburuk kehidupan Tentang kenangan hutan hutan kecil di seberang dermaga, tentang cerita purba bukit bukit dan jalan setapak merah, tentang cerita indah mawar dan melati Sayang, tahukah kau Ada sajak gulana yang lebih dulu tiba di sini lalu bunuh diri Sebelum hujan ini datang Dan saat ini Mungkin ia sedang menjelma ke dalam suara-suara itu Hari ini hujan akan lama, Saya tahu sepanjang jalan akan penuh romantisme dan penuh dengan cerita tentang hujan hari ini daun daun trambesi berjatuhan, akan menjadi kabar penutup yang akan di terbangkan angin kemana-mana Hari ini jika saja hujan menjadi reda Aku ingin mengajakmu pergi bertualang, ke atas langit, menggusur kesedihan, Dan segala yang bernama ketakutan diantara kita karena cinta, Di perjalanan akan kuceritakan padamu banyak hal tentang tragedi Cerita tentang laut yang kehilangan nafas, cerita tentang hutan yang mati di perkosa sore kemarin oleh sekumpulan kaya, tentang sekumpulan burung putih yang selalu terbang di sekitar gedung karena kehilangan rumah dan menjadi lupa dengan arah, tentang melati dan mawar yang enggan tumbuh di halaman rumah Dan termasuk tentang kita yang masih saja begitu rahasia kita akan pergi ke tepian langit merona itu di ujung senja, ke rumah matahari, Berteduh pada seribu cahaya yang berdiam Bukankah selalu kukatakan bahwa Aku adalah yang selalu datang menjelma hening Ketika kau menjadi gerimis lebat yang sulit di bendung angin sungai-sungai yang mengalir ke hatimu Ketika kau menjadi laut seharian Tapi sementara ini, aku dan kau adalah seribu fragmen dan alegori dalam puisi dan sajak di sepotong bahagia yang hari ini kita seduh dalam segelas kopi hitam bersama tanpa pemanis buatan Melewatkan hari yang penuh hujan Sambil menunggu waktu yang baik Menumpahkan sesak rindu Juga segala Kemarahan di hati Menuju ke langit Makassar Februari, 2019
Penulis:
Ari MD Penikmat sastra dan Seni Pernah gabung dan belajar di Sanggar Merah Putih makassar
Topik terkait
#puisi #ari md #penikmat seni dan sastra #sanggar merah putih #di suatu hari yang hujan