Demi Bumi yang Bebas Polusi, Produksi Plastik Harus Dihentikan
Klikhijau.com – Ketika pertama kali ditemukan. Plastik disambut suka cita. Lalu waktu bergerak semakin jauh. Plastik berubah menjadi sesuatu yang meresahkan. Produksi plastik yang masif dengan harg...
Klikhijau.com – Ketika pertama kali ditemukan. Plastik disambut suka cita. Lalu waktu bergerak semakin jauh. Plastik berubah menjadi sesuatu yang meresahkan.
Produksi plastik yang masif dengan harga murah, membuatnya mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Karena mudah didapat dan murah, maka sebagian besar masyarakat dunia dengan mudah pula membuangnya.
Sialnya, sifat plastik sulit terurai. Plastik juga mudah bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
[irp]
Karena itu, tidak mengherankan bila saat ini, plastik bisa ditemukan di mana-mana. Mulai dari yang dari gunung hingga palung terdalam lautan, bahkan pada tahun 2050 mendatang, diperkirakan jumlahnya lebih banyak dari ikan di laut.
Berbagai langka telah ditempuh untuk menghilangkannya. Namun, produksi plastik yang tetap berjalan membuatnya sulit dicegah. Kehadirannya bisa menjadi penyebab berbagai polusi, mulai air, tanah hingga udara.
Karena itu, demi lingkungan yang bebas dari polusi, maka produksi plastik memang harus dihentikan. Gagasan tersebut ditelurkan oleh tim ilmuwan internasional.
Mereka berpendapat, untuk mengakhiri polusi udara, tanah, sungai, dan lautan dari puing-puing plastik dan mikroplastik. Jalan terbaik adalah produksi plastik baru perlu segera diatur, dibatasi, dan, dalam jangka panjang harus dihapus.
Gagasan dari tim peneliti itu dibuat dalam bentuk surat dan di muat dalam jurnal Science. Pertanyaannya, bagaimana cara mengatasi sisi konsumsi dan permintaan dari masyarakat.
[irp]
Jawabannya adalah sangat penting untuk mengekang polusi plastik, melalui pendekatan komprehensif yang mencakup sisi pasokan diperlukan untuk sepenuhnya mengatasi ancaman global yang akan segera terjadi ini.
“Bahkan jika kita mendaur ulang dengan lebih baik dan mencoba mengelola sampah sebanyak yang kita bisa, kita masih akan melepaskan lebih dari 17 juta ton plastik per tahun ke alam,” kata Melanie Bergmann yang menjadi penggagas surat tersebut dan juga ahli biologi di Alfred Wegener .
Sedangkan menurut Lembaga Penelitian Kutub dan Kelautan (AWI), jika produksi terus tumbuh dan berkembang, kita akan dihadapkan pada tugas Sisyphean yang sesungguhnya.