Sapardi Djoko Damono, Hujan, dan Mikroplastik

Publish by -117 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Sapardi Djoko Damono, Hujan, dan Mikroplastik
Ilustrasi hujan/foto-Ist

Hujan di bulan Juni pun tak bisa lepas dari ancaman mikroplastik

 Klikhijau.com –  Penyair hujan, rasanya memang pas disematkan kepada Sapardi Djoko Damono. Ia terkenal suka menggunakan diksi hujan dalam puisinya.

Apalagi pada puisinya  yang berjudul Hujan Bulan Juni. Bisa dibilang jadi puisi yang membuat banyak orang mencintai hujan.

Puisi itu pun telah difilmkan. Cerita di filmnya mengharu biru. Hujan dan penyair adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Saya kira bukan hanya Sapardi  Djoko Damono yang suka menggunakan diksi hujan, banyak penyair dan sastrawan melakukannya.

Namun, sebanyak apa pun penyair dan sastrawan yang menggunakan kata hujan dalam tulisannya. Eyang Sapardi tetaplah jagonya—melalui Hujan Bulan Juni-nya itu.

KLIK INI:  Salju Mengandung Plastik Turun di Kutub Utara

Perihal hujan, hampir semua orang punya kenangan di dalamnya. Saya adalah salah satunya yang punya kenangan dalam hujan.

Sewaktu kecil, saya menyukai bermain hujan. Kebiasaan itu masih kadang terulang hingga sekarang. Hanya saja, bermain hujan sekarang ini sepertinya tak lagi aman.

Butiran-butiran hujan yang jatuh dari langit ke tanah tak sebersih dulu. Banyak fakta mengerikan sekarang ini tentang hujan.

Kedatangan hujan, awalnya biasanya dipuja dan disyukuri, lalu perlahan jadi keluhan panjang. Banyak kerjaan yang tertunda karena hujan, selain itu bebarapa tahun terakhir hujan telah membawa ancaman berupa bencana alam, banjir, tanah longsor dan lainnya.

Ancaman terbaru yang ditemukan dalam hujan oleh para peneliti adalah hujan telah mengandung mikroplastik.

Kita semua tahu, mikroplastik sangat berbahaya bagi lingkungan dan juga kesehatan. Meski efek mikroplastik bagi tubuh manusia memang belum diketahui pasti, tapi para ilmuwan telah memperingatkan akan potensi bahayanya.

Mikroplastik adalah partikel kecil  yang hanya berukulan 5 mm sehingga sangat mudah merasuk ke bagian terdalam tubuh dan  susah terdeteksi jika telah membaur ke dalam lingkungan, ke dalam tanah dan air.

KLIK INI:  Ngeri, Tubuh Manusia pun Mulai Didiami Mikroplastik
Terbawa angin

Ada sebuah penelitian terbitan 2019 menyimpulkan rata-rata orang menghirup hingga 11 mikroplastik per jam. Karena ukurannya yang sangat kecil, mikroplastik dapat mengendap di jaringan paru-paru dan menyebabkan penyakit seperti asma atau kanker.

Bagaimana bisa mikroplastik menyentuh hujan. Penyebabnya karena mikroplastk sangat kecil sehingga mudah diterbangkan angin bahkan ke tempat terpencil yang tak tersentuh manusia.

Pada tahun 1970-an mikroplastik pertama kali ditemukan. Ukurannya  seukuran sebutir beras atau bahkan lebih kecil dari partikel debu.

Sampah plastik adalah jenis sampah yang ‘kepala batu’ tak mudah terurai, jika terurai akan berubah menjadi partikel-partikel mikro. Setelah terurai berubah jadi mikroplastik ia mencemari atmosfer, tanah, dan sistem perairan di Bumi.

Saat ini mikroplastik ditemukan di mana saja, bahkan pernah ada penelitian menemukan telah sampai ke feses manusia. Pun telah menghuni kawasan pegunungan terpencil, tak hanya perkotaan. Sudah dari dulu diasumsikan mikroplastik bisa sampai ke sana karena terseret angin.

Namun  penelitian yang dilakukan  Janice Brahney, peneliti utama dari Utah State University menjadi yang pertama menyelidiki kemungkinan tersebut

Penelitian Janice tersebut dipublikasi di  di jurnal ‘Science’ sebagaimana dilansir dari Vice Indonesia, Selasa, 23 Juni 2020 bahwa ada  11 kawasan perlindungan di Amerika Serikat dihujani lebih dari 1.000 metrik ton mikroplastik—setara 120 juta botol plastik—setiap tahunnya.

Studi ini mengungkapkan hujan plastik juga membasahi wilayah American West dan negara-negara lainnya.

KLIK INI:  Nyamuk Jadi Ancaman Baru Bagi Lingkungan, Kok Bisa?
Menyentuh semua permukaan Bumi

“Mikroplastik telah menyentuh segala sisi permukaan Bumi, benar-benar mengerikan.”” ujar Janice Brahney, peneliti utama dari Utah State University.

Janice dan rekan ilmuwannya mengumpulkan sampel dalam dua ember 13,2 liter yang dilengkapi tutup pemicu sensor.

Sampah plastik yang dibuang sembarangan akan menjelma jadi partikel-partikel kecil yang dapat terbang ke atmosfer

Setelah terkumpul, langkah selanjutnya yang mereka lakukan adalah  memisahkannya menjadi plastik basah dan kering tergantung media transmisinya.

Setelah selesai, mereka menghitung partikel plastik dengan tangan di bawah mikroskop. Isyarat visual seperti warna cerah dan tekstur tidak biasa. Karakteristik plastik akan membedakan mana yang plastik dan mana yang debu.

Sampel partikel dan fiber tersebut berasal dari berbagai benda, seperti cat, produk kosmetik dan karpet. Serat mikro pakaian—yang bisa lepas ketika dicuci, dijemur dan dikenakan—mendominasi jumlahnya.

KLIK INI:  Temuan JPIK, Illegal Logging Semakin Marak di Kawasan Hutan

Tim Janice menemukan mikroplastik basah kemungkinan besar berasal dari kota-kota besar. Sementara itu, mikroplastik kering bisa terseret jauh sekali, bahkan tak jarang melintasi benua.

“Kami sangat tidak menyangka plastik yang berubah menjadi partikel-partikel kecil bisa menyebar lewat angin,” kata Janice

“Penelitian kami baru mulai mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di atmosfer, dan bagaimana proses pengangkutannya,” tambahnya

Mikroplastik yang beterbangan dibawa angin, jika hujan turun tentu akan terbawa kembali ke bumi melalui butiran-butirannya.

Apalagi saat ini, hujan bulan juni—seperti judul puisi  Sapardi Djoko Damono masih tabah hadir bersama butiran-butirannya ke bumi.

Hanya saja, jika merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Janice maka hujan di bulan Juni pun tak bisa lepas dari ancaman mikroplastik di mana, termasuk di Indonesia.

KLIK INI:  Tak Boleh Ada Bunga Mati dan Taman Kota yang Gersang di Makassar
Editor: Idris Makkatutu
Sumber: Vice Indonesia

KLIK Pilihan!