Deasy, Perempuan yang Mencintai Sampah dengan Cara Elegan

Klikhijau.com – Usianya belum mencapai 30 tahun, belum. Namanya Deasy Esterina, dari namanya kamu bisa tahu jika ia adalah hawa. Nama adalah salah satu petunjuk jenis kelamin yang paling umum. Namu...

Deasy, Perempuan yang Mencintai Sampah dengan Cara Elegan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Usianya belum mencapai 30 tahun, belum. Namanya Deasy Esterina, dari namanya kamu bisa tahu jika ia adalah hawa. Nama adalah salah satu petunjuk jenis kelamin yang paling umum.

Namun, yang membedakan Deasy, begitu saja saya ingin menyapanya. Itu mengingatkan saya pada sebuah film dengan judul yang hampir sama: Daisy.

Barangkali yang membedakan Deasy  dengan hawa yang lain adalah pola pikirnya. Di kepalanya dipenuhi ide, bagaimana barang yang telah “terbuang” bisa menjadi uang.

Ide itu membawanya mendirikan Studio Desain Kreskros yang memproduksi tas atau dompet bermerek kreskros. Yang menarik dari karya Deasy adalah karena  terbuat dari limbah plastik.

Hawa  kelahiran 7 Desember 1990  itu menggunakan sisa-sisa plastik dari pabrik benang kemudian dibuat tas berdesain modern yang memukau.

Alumni Jurusan Arsitek Universitas Ciputra Surabaya ini menggandeng para ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Ambarawa. Ia menggugah pra ibu-ibu agara menggunakan limbah plastik sebagai bahan rajutan membuat berbagai aksesoris hingga tas ransel.

Iya, Deasy memang mulai mencanangkan bisnis tas dengan gerakan sosial pada pertengahan tahun 2016. Hal ini dilakukan agar bisnisnya berkesinambungan dan berdampak sosial bagi publik.

Sebelumnya di tahun 2014, Deasy pernah berpartisipasi dalam acara Surabaya Design It Yourself dengan memproduksi tas dari sisa-sisa limbah. Tas produksinya ini banyak diburu pembeli. Ini yang menjadi cikal bakal usaha tas KresKros

Ia menuturkan limbah plastik dibersihkan terlebih dahulu sebelum dipotong-potong panjang membentuk utasan. Kemudian utasan ini digabung dengan benang serat organik, para perajin kami merajut lembaran-lembaran crochet satu per satu secara manual.

“Memang untuk membuat satu tas dibutuhkan  dua hingga tiga hari. Dalam sebulan kami memproduksi sekitar 200 tas ransel dan tas kerja dengan segmen milenial. Satu tas dibandroll Rp150 ribu hingga Rp200 ribu,” papar Deasy seperti yang ditulis Irvan Sjafari pada majalahpeluang.com 2018 lalu.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2