Daeng Halim dan Fundamental Kopi Topidi

Klikhijau.com - Aroma kopi topidi tercium dari kompetisi Cup of Exellence (COE) Indonesia 2021. Kabar ini  terkirim atas foto piagam penghargaan yang dibagikan oleh Daeng Halim melalui pesan Whatsapp,...

Daeng Halim dan Fundamental Kopi Topidi
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

“Topidi adalah salah satu wilayah penghasil kopi di Kabupaten Gowa dengan Luasan Kopi Arabika sekitar 150 Ha dan Produksi sekitar 80 ton/tahun," urai Hariman Qalbi.

Daeng Halim selaku produsen kopi spesialty hanya mampu mengelolah sekitar 10 persen dari total produksi kopi Topidi.

“Hal tersebut karena terkendala dalam proses pengolahan kopi membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dibanding kopi komersial serta kondisi penjemuran yang terbatas. Selain itu dia juga harus bersaing dengan pedagang pembeli kopi asalan yang membeli kopi meskipun masih hijau,” ringkasnya.

Soal ciri khas kopi topidi, Zulkifli K, SP punya penilaian tersendiri. Sebagai petugas yang selama ini ikut mendampingi Kelompok petani Kopi di Kabupaten Gowa. Menurutnya, kopi Topidi memiliki karakteristik body lebih tipis dan rasa yang sedikit lembut.

Menurutnya, kopi dari Topidi punya acidity yang lebih besar. Dan memiliki aroma pisang dan kayu manis. Karakteristik kopi Topidi tersebut memang dipengaruhi oleh budidaya dan karakter lokasi tumbuh.

“Namun yang perlu tetap diperhatikan adalah kopi yang berkualitas itu didapatkan dari memetik Kopi dengan buah yang merah kemudian diolah,” jelasnya.

Daeng Halim, Sosok Fundamental Kopi Topidi

Dari laman Direktori Pertanian Cup of Exellence (https://farmdirectory.cupofexcellence.org/) kemunculan dan keberhasilan Daeng Halim dalam kompetisi COE 2021 tercatat di sini. Laman ini juga menjadi rujukan tulisan berikut, dalam menempatkan Daeng Halim sebagai sosok fundamental kopi Topidi.

Kegemaran Daeng Halim didasari oleh apa yang ia saksikan dalam rutinitas sehari-hari. Bermula dari ayahnya, Daeng Balengkang, saat ia berjalan melewati hutan kopi di sekitar rumahnya.

Terletak di ketinggian 1240 mdpl hingga lebih dari 1500 mdpl, kiprah Daeng Halim dalam bertani kopi mulai tumbuh dan panen tiga dekade yang lalu.

Dengan menerapkan metode tradisional di desanya secara turun-temurun, ia akhirnya bertemu dengan keluarga besar Kopi Toduri pada tahun 2016.

Tahun tersebut menjadi awal bagi Daeng Halim dan keluarganya untuk mendedikasikan dan mencoba mendiversifikasi usaha dari metode pertanian kopi tradisional mereka.

Topidi saat ini dihuni oleh sekitar 48 KK yang hidup di atas ketinggian 1.350 mbpl. Dengan kondisi alam dingin dan berkabut menjadikan kopi dapat tumbuh subur. Akses menuju Topidi dapat ditempuh kurang lebih kurang 20 menit dari kota Malino.

Topidi, dengan keberadaan tanaman kopinya menjadi salah satu aset fundamental. Salah satu komoditi unggulan yang masih terjaga dan terpelihara. Dengan meletakkan  potensi yang lahir dari keistimewaan bumi Topidi. Kembali terpulang, bagaimana menjaga keberlanjutan sambil merawat ekosistem di sekitarnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2