Covid-19, Sebuah Momentum untuk Lebih Arif Hidup di Bumi

Klikhijau.com -  Sejak merebaknya Covid-19 di bumi Indonesia sebulan lalu. Orang rimba kembali masuk hutan. Cara itu mereka tempuh untuk  mengantisipasi terkena paparan Covid-19. Cara itu, mereka m...

Covid-19, Sebuah Momentum untuk Lebih Arif Hidup di Bumi
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Menurut Temenggung Bepayung, dan mantan Temenggung Tarib yang sekarang menjadi tetua adat, orang rimba sudah terbiasa secara turun temurun melakukan "besesandingon", yaitu memisahkan diri atau menjauhkan diri dari orang sakit atau yg diduga mengidap penyakit menular, termasuk penyakit pilek dan batuk. Jadi begitu mereka mengetahui tentang penyakit korona, respon yang sama dilakukan oleh mereka.

Akibat pengaruh dari luar, menurut Temenggung Tarib, bahwa Orang Rimba zaman dulu dengan sekarang sudah berbeda atau berubah dalam hal menerapkan kebiasaan turun temurun dari nenek moyangnya. Orang rimba zaman dulu sangat ketat menerapkan pantangan dan larangan adat di dalam kelompok.

“Contoh, zaman dulu jika ada yang sakit batuk saja, itu tidak boleh melewati jalan yang biasa dilewati di dalam hutan. Kalaupun terpaksa, si penderita penyakit tersebut harus memberi tanda di ujung dan pangkal jalan, bahwa jalan tersebut baru saja dilewati oleh orang sakit, sehingga jalan tersebut tidak boleh dilewati orang lain yang sehat, selama minimal 7 hari atau 1 minggu. Tanda yang biasa dipasang di ujung atau pangkal jalan adalah ranting pohon atau kayu berduri,” jelasnya.

Meski aturan adat seperti ini sudah banyak yang dilanggar oleh generasi sekarang, "besesandingon" masih dijalankan oleh hampir seluruh kelompok Orang Rimba di Taman National Bukit Duabelas.

Terkait hal ini, Haidir menyampaikan TNBD tela berupaya untuk membantu menjaga, dan melestarikan kearifan lokal suku anak dalam di bidang kesehatan ini.

Adaptasi aturan adat

“Kami mengadaptasi aturan adat ke dalam sistem tata kelola Taman Nasional Bukit Dua Belas. Dimulai dari agenda bersama bertajuk Memadukan Aturan Adat Orang Rimba dengan Aturan Negara dalam Penyusunan Zonasi TNBD,” kata Haidir.

Selain itu, TNBD juga menyelenggarakan Sekolah Rimba, yang berjumlah 6 sekolah di 3 Kabupaten. Pertama, di Kabupaten Sarolangun yaitu Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning, dan Sekolah Rimba Sako Selensing.

Selanjutnya, di Kabupaten Batanghari yaitu Sekolah Rimba Kejasung, dan Sekolah Rimba Srengam. Sedangkan di Kabupaten Tebo yaitu Sekolah Rimba Sako Nini Tuo, dan Sekolah Rimba Sungai Betnai.

"Kami juga mempunyai program "mobile school" atau sekolah berjalan, mengikuti kelompok orang rimba yang sedang melakukan ritual melangun," kata Haidir.

Ritual ini mereka lakukan saat ada anggota kelompok yang mendapat musibah kematian. Tujuannya adalah menghilangkan duka cita keluarga. Mereka hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya selama berbulan-bulan.

Mereka kembali ke tempat semula ketika rasa berduka sudah hilang atau terlupakan.

Untuk pelayanan kesehatan, mereka bisa mendapatkannya di puskesmas terdekat. Selain itu, TNBD juga mempunyai program bersama dengan klinik perusahaan setempat yaitu " puskesmas berjalan".

"Jadi tim medis yang mendatangi ke lokasi bermukim kelompok di dalam kawasan TNBD. Sudah ada juga akses ke RSUD, dan Puskesmas dengan bebas biaya untuk suku anak dalam," tutur Haidir.

Suku anak dalam yang bermukim di dalam kawasan TNBD ada 13 kelompok Temenggung, dengan 718 KK dan 2.960 jiwa (Hasil sensus TNBD bersama BPS Sorolangun, April 2018).

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2