Covid-19 Berkontrubisi Terhadap Meningkatnya Sampah Plastik di Laut
Klikhijau.com – Sampah plastik di laut adalah cerita yang tak mengenal kata tamat. Berdiamnya orang di rumah karena Covid-19. Tak menamatkan cerita sampah yang menumpuk di laut, terutama di laut Indo...
Klikhijau.com – Sampah plastik di laut adalah cerita yang tak mengenal kata tamat. Berdiamnya orang di rumah karena Covid-19. Tak menamatkan cerita sampah yang menumpuk di laut, terutama di laut Indonesia.
Justru sebaliknya, Covid-19 membuat lautan kian digerogoti sampah plastik. Itu artinya ekosistem laut semakin terancam pula.
Sampah plastik adalah jenis sampah yang bebal. Tak ingin terurai dalam waktu yang singkat, ia butuh waktu bertahun-tahun.
Jika sampai di laut persoalan sampah plastik akan semakin runyam. Ia akan bergerak dibawa gelombang.
[irp]
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono mengungkapkan jika saat ini ancaman bagi biodiversitas laut kita adalah adanya praktik perikanan yang berlebihan (over-exploitation) dan penangkapan yang merusak (destrictive fishing).
“Ada pula masalah penangkapan menggunakan bahan atau alat tangkap berbahaya seperti bom ikan, dan racun ikan sianida yang dapat merusak biota laut,” ujarnya, Rabu, 6 Juni 2020.
Selain penangkapan ikan yang merusak lingkungan tersebut. Agus juga mengungkapkan fakta lain, yakni sampah plastik. Bahkan menurutnya ada wabah Corona yang melanda dunia memberikan kontribusi kerusakan laut berupa sampah plastik.
“Data menunjukkan adanya kenaikan sampah plastik seiring dengan meningkatnya belanja online di masa pandemi,” ungkapnya.
Aktivitas penangkapan ikan dan sampah plastik, tentu menjadi ancaman yang sebenarnya bisa saja dihentikan. Sayangnya kesadaran menuju ke arah itu masih sangat minim. Padahal menjaga laut adalah sebuah upaya mulia, yakni menjaga kehidupan.
Apakah hanya dua hal itu yang merusak laut dan keragaman hayati laut. Rupanya tidak, Agus juga mengungkapkan penyebab yang lain, yakni tekanan antropogenik dari pembangunan di wilayah pesisir karena adanya tekanan kebutuhan lahan yang terbatas, reklamasi, penambangan pasir dan batu karang, dan pencemaran turut menambah resiko kerusakan biota laut.
[irp]
“Tantangan perubahan iklim juga mengancam keragaman hayati kita. Seperti pemanasan laut, pengasaman laut, dan kenaikan muka air laut, di mana ini berdampak pada perekonomian masyarakat di pesisir,” tutur Agus.