Cerita Warga Berdaya dan Kota yang Anti Ketahanan Lingkungan

Ada kegelisahan luar biasa mana kalah masyarakat berhadapan dengan kota yang rentan. Dalam tata kota yang berisiko, masyarakat yang paling besar terpapar bahaya adalah kelompok masyarakat rentan (o...

Cerita Warga Berdaya dan Kota yang Anti Ketahanan Lingkungan
Bacakan Artikel

Ada kegelisahan luar biasa mana kalah masyarakat berhadapan dengan kota yang rentan.

Dalam tata kota yang berisiko, masyarakat yang paling besar terpapar bahaya adalah kelompok masyarakat rentan (orang miskin, perempuan, anak-anak, kelompok difabel, dan kelompok rentan lainnyaโ€”termasuk ancaman bagi kelompok minoritas kritis.

Di Indonesia orang orang yang tinggal di pedesaan dan perkotaan, meminjam istilah Ulrick Beck (1992), sama-sama berada dalam situasi risk society di tengah gejala modernitas yang kian intensif.

Identifikasi akar penyebabnya adalah faktor manusia, kekuasaan (negara dana tau pasar), dan siklus ekosistem alam raya. Faktor pertama dan kedua menyumbang porsi kehancuran paling tinggi.

Kegalauan seorang teman di Makassar mengenai betapa serampangan dan ngawurnya praktik pembangunan berakibat pada kerentanan kotanya.

[irp posts="147" name="Laut Biru, Laut tanpa Plastik"]

Saya kira, serangkaian bencana dapat dibaca akibat praktik ekonomi hancur lebur tak peduli lingkungan hidup. Kasus Makassar dan pelbagai kota lain yang rentan.

Bukan ekonomi insani apalagi ekonomi ekologi, yang ada adalah ekonomi instani (sejenis makhluk berkadar โ€˜mie instanโ€™). Perilaku pelaku usaha dan pembangunan yang tuna ekologi, dan terlalu melek ekonomi jalan pintas pro-profit oriented.

Masyarakat perkotaan berkelanjutan apakah sebuah cita-cita teknologis atau Politis?, pertanyaan Edward Newman, 1999. Nuansa politik kita saksikan sebagai kader polutan terbesar.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: