Capung Memiliki Trik Tak Terduga Menghadapi Perubahan Iklim
Klikhijau.com – Jika dilihat sekilas, capung adalah makhluk yang lemah. Namun, siapa sangka jika capung memiliki senjata ampuh menghadapi suhu yang menghangat. Kita tentu merasakan bahwa akhir-akhi...
Klikhijau.com – Jika dilihat sekilas, capung adalah makhluk yang lemah. Namun, siapa sangka jika capung memiliki senjata ampuh menghadapi suhu yang menghangat.
Kita tentu merasakan bahwa akhir-akhir ini, suhu rasanya lebih panas. Semua disebabkan oleh pemanasan global.
Saat suhu planet memanas, banyak makhluk hidup mengalami kesulitan. Namun, ada juga yang beradaptasi dengan cara cepat dan tidak terduga. Capung adalah salah satunya, yang membuatnya cukup tangguh.
Ahli biologi di Universitas Colorado telah menemukan bahwa beberapa capung pada dasarnya mengolesi dirinya dengan tabir surya alami.
Tabir surya itu berupa lapisan lilin. Itulah yang membuat mereka tetap sejuk dan mudah beradaptasi di dunia yang memanas.
[irp]
Beberapa spesies capung menghasilkan senyawa lilin yang didistribusikan ke seluruh tubuhnya.
Lilin ini berfungsi sebagai penghalang, mencegah keluarnya uap air dan mencegah capung kepanasan.
Capung adalah hewan berdarah dingin dan tidak dapat mengatur suhu tubuhnya secara internal seperti manusia.
Sebaliknya, mereka mengandalkan kehangatan atau kesejukan lingkungan sekitar. Mereka menemukan keseimbangan sempurna antara sinar matahari dan naungan sambil menarik pasangan bisa menjadi tantangan yang berbahaya.
Selain itu, beberapa capung menempatkan diri secara strategis di area terbuka untuk menarik perhatian betina.
[irp]
Namun, ini berarti mereka menghabiskan banyak waktu di bawah sinar matahari, yang dapat meningkatkan suhu tubuh mereka secara berbahaya.
Ini bertindak seperti perisai pelindung, melindungi terhadap hilangnya kelembaban dan panas berlebih. Lapisan ini, yang disebut pruinescence, dapat membuat capung tampak putih beku.
Namun apakah lapisan lilin pelindung ini memiliki keuntungan dalam menghadapi perubahan iklim?
Untuk mengetahuinya, para peneliti menggunakan database besar penampakan capung yang dikumpulkan dari waktu ke waktu (total 387.000 catatan) diselidiki secara menyeluruh.
Mereka menemukan pola signifikan yang menunjukkan bahwa capung pengguna pluincense adalah spesies paling umum di daerah hangat dan kering.