Bersama P3E Suma, Unismuh Makassar Menuju Kampus Berwawasan Lingkungan

Klikhijau.com - Sudah dua jam lebih saya di depan laptop. Segelas kopi hitam pekat dan air putih setia menemani, pun iringan lagu Sheila on 7. Saya sedang berupaya menulis sebuah berita tentang penana...

Bersama P3E Suma, Unismuh Makassar Menuju Kampus Berwawasan Lingkungan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Sudah dua jam lebih saya di depan laptop. Segelas kopi hitam pekat dan air putih setia menemani, pun iringan lagu Sheila on 7. Saya sedang berupaya menulis sebuah berita tentang penanaman pohon yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Penanaman ini bekerja sama dengan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma) yang dilaksanakan pada Jumat , 11 Januari 2019.

Sementara lokasinya berada di Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Unismuh Makassar yang terletak di Kabupaten Gowa.  Tapi, saya gagal. Ide menghilang entah.

Padahal, sebenarnya menulis berita yang kemarin itu tidaklah terlalu sulit, sebab data wawancara telah ada. Saya tinggal mengolahnya saja menjadi sebuah tulisan, tapi tidak berhasil.

Pernyataan Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) Unismuh Makasssar yang mengutip pendapat Otto Soemarwoto bahwa paradigma pengolahan lingkungan tidak seperti dulu lagi, harus pengawasan, tapi sekarang atur diri sendiri. Bukan lagi pada pengawasan, atur dan awasi.

“Orang yang tidak bisa mengatur dirinya, itu berarti paradigma lingkungannya kurang bagus,” terang Saiful Saleh dalam sambutannya.

Apa yang dikatakan Saiful Saleh memang benar. Orang yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri tentu akan sulit mengolah lingkungan.

Katanya lagi, bahwa program pemerintah menanam 25 batang pohon selama hidup telah ia lakukan sejak masih Sekolah Dasar (SD). Ia menanam pohon kelapa, mangga, kedondong, dan beberapa jenis pohon lainnya.

Tapi, penanam pohon di masa lalu itu harus kembali diperbahuri dan ia harus patuh pada program pemerintah, makai ia akan kembali memulai menanam 25 pohon supaya pohon yang ditanamnya semakin banyak

“Hidup harus jelas dan ikhlas, kalau tidak, itu tidak bagus, maka mulai menanam pohon dengan ikhlas, kalua tidak ikhlas tidak baik tumbuhnya.” Sarannya disertai dengan tawa renyah. Ia juga menyarankan agar penanam pohon tersebut harus dievaluasi satu tahun yang akan datang, apakah tumbuh dan terawat dengan baik atau tidak.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2